ARTIKEL

PENGARUH KEPEMIMPINAN SIFAT TERHADAP KEEFEKTIVAN KEPEMIMPINAN SEKOLAH
(STUDI KASUS PADA KEPALA SMKN 1 PEUSANGAN – BIREUEN)
Oleh: Marwan Hamid
Telah di Terbitkan pada: Jurnal ekonomika Universitas Almuslim Bireuen Vol.1 No.1 Maret 2010

A b s t r a k

Memimpin merupakan salah satu dari empat fungsi manajemen. Teori sifat berusaha menentukan daftar ciri-ciri yang berbeda untuk menentukan efektivitas kepemimpinan. Sehingga teori kepemimpinan sifat, dan identifikasi enam sifat kepemimpinan singnifikan Ghiselli. teori kepemimpinan sifat mengasumsikan bahwa ciri-ciri yang berbeda menentukan efektivitas kepemimpinan. Ciri kepemimpinan efektif adalah kemampuan pengawasan, kebutuhan pencapaian pekerjaan,  inteligensi, ketegasan, jaminan diri dan inisiatif. Dalam traits theory menyatakan efektivitas kepemimpinan tergantung pada karakter pemimpinnya. Sifat-sifat yang dimiliki antara lain kepribadian, keunggulan fisik, dan kemampuan sosial. Seorang pemimpin harus memiliki astabrata, yakni delapan sifat unggul yang dikaitkan dengan sifat alam seperti tanah, api, angin, angkasa, bulan, matahari, bintang. Berkaitan dengan hal itu penelitian ini mengungkap pengaruh kepemimponan sifat Kepala Sekolah terhadap efektivitas kepemimpinannya. Hasil penelitian terukur bahwa terdapat korelasi yang positif antara kepemimpinan sifat dan keefektifan kepemimpinan kepala SMKN 1 Peusangan Kab Bireuen, dengan besar pengaruhnya melebih sepertiganya.
Kata kunci : Kepemimpinan Sifat, Efektivitas  1.    Pendahuluan
Sekolah merupakan sebuah organisasi yang membutuhkan pengelolaan yang baik, secara organisatoris sekolah memiliki struktur orga-nisasi, secara administrasi sekolah mempu-nyai elemen input-proses-output. Pada tingkat paling operasional, kepala sekolah adalah orang yang berada di garis terdepan yang mengkoordinasikan upaya meningkatkan pembelajaran yang bermutu. Dalam praktik di Provinsi Aceh, kepala sekolah adalah guru senior yang memiliki kualifikasi menduduki jabatan itu. Tidak ada yang bukan guru di-angkat menjadi kepala sekolah. Jadi, seorang guru dapat berharap bahwa jika “beruntung” suatu saat kariernya akan berujung pada jabatan sebagai kepala sekolah.
Kepala sekolah seharusnya merupakan jabatan yang istimewa. Untuk satu hal saja, jabatan kepala sekolah bukan sekadar jabatan manajer dengan segala macam sebutannya itu. Memang dalam artian sebagai kepala sebuah unit kerja, sebenarnya jabatan kepala sekolah tidak berbeda dari jabatan kemanajerial lainnya. Setidaknya fungsinya sama, yaitu memaksimumkan pendayagunaan sumber daya yang tersedia secara produktif untuk mencapai tujuan yang ditetapkan bagi unit kerjanya. Dalam kadar tertentu, kepala sekolah sebagai kepala sebuah unit kerja, memainkan peran yang sama seperti halnya manajer untuk kerja lainnya. Ia harus dapat memastikan bahwa sistem kerjanya berjalan lancar dan semua sumber daya yang diper-lukan untuk mencapai hasil harus tersedia secukupnya dengan kualitas yang memadai. Namun, kepala sekolah mengelola sebuah lembaga yang sangat istimewa, yaitu sekolah sebagai lembaga pendidikan formal yang akan sangat mewarnai masa depan anggota utamanya, yaitu peserta didik. Kepala sekolah adalah kepala pendidikan sehingga berbeda dengan jabatan-jabatan lainnya di dalam dunia bisnis.
Disadari bahwa kepala sekolah bukan satu-satunya yang determinan bagi efektif tidaknya suatu sekolah karena masih banyak faktor lain yang perlu diperhitungkan. Ada guru sebagai faktor kunci yang berhadapan langsung dengan para peserta didik dan masih ada lagi sejumlah masukan instrumental  dan masukan lingkungan yang mempengaruhi proses pembelajaran. Namun, kepala sekolah memainkan peran  yang termasuk sangat menentukan. Misalnya studi dengan pendekatan sosiologi tentang efektivitas sekolah menengah menunjukkan bahwa kepemimpinan kepala sekolah memainkan peran yang sangat penting (Lightfoot,1983). Kepala sekolah bukan manajer sebuah unit produksi yang hanya menghasilkan barang mati, seperti manajer pabrik yang menghasilkan sepatu, misalnya. Lebih dari para manajer lainnya, ia adalah kepala pendidikan yang bertanggung jawab menciptakan lingkungan belajar yang kondusif yang memungkinkan anggotanya  mendayagunakan dan mengembangkan potensi seoptimal mungkin. Dalam lingkungan seperti itu, para guru dan peserta didik termotivasi untuk saling belajar, saling memotivasi, dan saling memberdayakan. Suasana seperti itu memberi ruang untuk saling belajar melalui keteladanan, belajar bertanggung jawab, serta belajar mengem-bangkan kompetensi sepenuhnya, bukan sekadar kompetensi kognitif. Kepala sekolah seharusnya berada di garda paling depan dalam hal peneladanan, pemotivasian dan pemberdayaan itu.
Konsep pemimpin yang efektif juga berbeda antara satu pakar dengan pakar lainnya. Kriteria yang dipilih untuk mengevaluasi efektivitas kepemimpinan mencerminkan bagai-mana peneliti menentukan konsep kepemim-pinan secara eksplisit maupun implisit.
Sebagian besar peneliti mengevaluasi efek-tivitas kepemimpinan berdasar konsekuensi dari tindakan pemimpin bagi pengikut dan komponen lainnya dalam organisasi. Berbagai  jenis hasil yang digunakan itu mencakup kinerja dan pertumbuhan kelompok atau organisasi pemimpin tersebut, kesiapannya untuk menghadapi tantangan atau krisis, kepuasan para pengikut terhadap pemimpin, komitmen pengikut terhadap  tujuan kelom-pok, kesejahteraan perkembangan psikologis para pengikutnya, bertambahnya status pemimpin dalam kelompok, dan kemajuan pemimpin ke posisi wewenang yang lebih tinggi  dalam organisasi.
Sikap pengikut terhadap pemimpin adalah indikator umum lainnya dan pemimpin yang efektif. Seberapa baik pemimpin itu memenuhi kebutuhan dan harapan pengikutnya? Apakah para pengikut menyukai, menghormati dan mengagumi pemimpinnya? Apakah pengikut benar-benar mau mengerja-kan keinginan pemimpin atau apakah mereka menolak, mengabaikan atau menumbangkan pemimpinnya? Sikap pengikut biasanya diukur dengan kuesioner atau wawancara. Perilaku pengikut, tersebut juga merupakan indikator tidak langsung dari ketidakpuasan dan permusuhan terhadap pemimpin. Contoh indikator ini adalah ketidak hadiran, masuk-keluar sukarela, kesedihan, keluhan pada manajemen yang lebih tinggi, permintaan untuk pindah bagian, memperlambat pekerjaan, dan sabotase yang disengaja terhadap peralatan dan fasilitas.
Efektivitas pemimpin kadang diukur ber-dasar kontribusi pemimpin pada kualitas proses kelompok yang dirasakan oleh para pengikut atau pengamat dari luar. Apakah pemimpin mampu meningkatkan kohesivitas anggota kelompok kerja sama anggota, motivasi anggota, penyelesaian masalah, pengambilan keputusan dan mendamaikan konflik antar anggota? Sangat sulit untuk mengevaluasi pemimpin yang efektif karena terdapat banyak alternatif ukuran efektifitas, dan tidak jelas ukuran mana yang paling relevan. Beberapa peneliti berusaha meng-kombinasikan beberapa ukuran menjadi satu kriteria gabungan, tetapi pendekatan ini membutuhkan penilaian subjektif dalam memberikan bobot penilaian ke setiap ukuran. Lussier(2009:316) memberi arti kepemimpinan adalah proses mempengaruhi karyawan agar bekerja ke arah pencapaian tujuan organisasi. Hal yang sama Vethzal Rivai(2003:2) mendefinisikan kepemimpinan adalah proses mempengaruhi dalam menentu-kan tujuan organisasi, memotivasi perilaku pengikut untuk mencapai tujuan, mempengaruhi untuk memperbaiki kelompok dan budayanya.
Lebih lanjut Vethzal Rivai(2003:3) mengatakan kepemimpinan merupakan sebagai proses mengarah dan mempengaruhi aktivitas-aktivitas yang ada hubungannya dengan pekerjaan para angota kelompok. Hal yang sama Gary Yukl(2009:4) mendefinisikan kepemimpinan adalah kemampuan individu untuk mempengaruhi, memotivasi, dan mem-buat orang lain mampu memberikan kontribusinya demi efektivitas dan keberhasilan organisasi. Dari pengertian tersebut, ada tiga implikasi penting yang terkandung yaitu (1) kepemimpinan itu melibatkan orang lain, (2) kepemimpinan melibatkan pendistribusian kekuasaan antara pemimpin dan anggota kelompok secara seimbang, (3) adanya kemampuan untuk menggunakan bentuk kekuasaan yang berbeda untuk mempengaruhi tingkah laku pengikutnya melalui berbagai cara. Karena itu, kepemimpinan itu pada hakikatnya memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (a) proses mempengaruhi atau memberi contoh dari pemimpin kepada pengikutnya, (b) seni mempengaruhi dan mengarahkan orang dengan cara kepatuhan, kepercayaan, kehormatan, dan kerja sama yang bersemangat dalam mencapai tujuan bersama, (c) kemampuan untuk mempengaruhi, memberi inspirasi, dan mengarahkan tindakan seseorang atau kelompok untuk mencapai tujuan yang diharapkan.
Kepemimpinan yang dimaksud disini adalah kepemimpinan kepala Sekolah. Peneliti ingin mengkaji dan menganalisis  tentang variabel kepemimpinan sifat, dalam hal ini Vethzal Rivai(2003:11) menegaskan bahwa teori sifat berusaha untuk mengidenti-fikasikan karakte-ristik khas (fisik, mental, kepribadian) yang dikaitkan dengan keberhasilan kepemimpinan. Lebih lanjut Vethzal Rivai menegaskan  teori sifat menekankan pada atribut-atribut pribadi dari para pemimpin. Lussier(2009:317) mengatakan sifat kepemimpinan berupaya menentukan cirri-ciri yang berbeda dalam menghasilkan efektivitas kepemimpinan.
Selanjutnya Lussier(2009) mengangkat studi yang dilakukan  Ghiselli(1971) dari 300 menejer yang diteliti menghasilkan  bahwa sifat-sifat tertentu penting untuk kepemimpinan yang efektif.
Atas beberapa kajian tioris dan rasionalitas di atas, peneliti ingin mengakaji lebih jauh tentang kefektivan kepala sekolah dengan judul “Pengaruh Kepemimpinan Sifat Terhadap Keefektivan Kepemimpinan Kepala Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 1 Peusangan Kabupaten Bireuen”.

B. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini untuk menguji model konseptual tentang pengaruh kepemimpinan sifat terhadap keefektivan kepemimpinan kepala SMK Negeri 1 Peusangan Bireuen. Secara rinci penelitian ini bertujuan untuk mengetahui:
1.    Kepemimpinan sifat kepala Sekolah (SMK)
2.    Keefektivan kepemimpinan kepala Sekolah (SMK), dan
3.  Pengaruh kepemimpinan sifat terhadap keefektivan kepemimpinan kepala SMK Negeri 1 Peusangan Kabupaten

C. Kajian Teori
1. Pengertian Kepemimpinan
Lussier(2009:316) mengatakan kepemim-pinan adalah proses mempengaruhi karyawan agar bekerja ke arah pencapaian tujuan organisasi. Lebih lanjut Lussier mengatakan pemimpin mempunyai efek yang berarti pada kinerja organisasi secara keseluruhan. Pengertian tersebut indentik dengan pengertian kepemimpinan yang diungkapkan sebelumnya oleh Handoko(2003:294).
Lussier dan Handoko, Robbins(2007:176) menambahkan bahwa pemimpin adalah orang yang mampu mempengaruhi orang lain dan memiliki wewenang manajerial. Lebih lanjut Robbins(2007:177) mengatakan kepemim-pinan adalah proses mempengaruhi kelompok menuju tercapainya sasaran. Seterusnya Wiludjeng(2007:142) mengutip Koontz Leadership is defined as the or process of influencing people so that they will strive willingly and enthusiastically toward the achievement of group goals.
Sementara itu Yulk(2009:4) merinci pendapat ahli, seperti berikut:
(a). Kepemimpinan adalah perilaku individu yang mengarahkan aktifitas kelompok  untuk mencapai sasaran bersama (Hemphill & Coons, 157:7),
(b). Kepemimpinan adalah pengaruh tambah-an yang melebihi kebutuhan mekanisme dalam mengarahkan organisasi secara rutim (D.Katz & Kahn, 1978:528)
(c). Kepemimpinan adalah proses mempenga-ruhi aktivitas kelompok yang terorganisir untuk mencapai sasaran(Rauch & Behling, 1984:46);
(d).   Kepemimpinan adalah proses memberikan tujuan (arahan yang berarti) ke usaha kolektif, yang menyebabkan adanya usaha yang dikeluarkan untuk mencapai tujuan (Jacobs & Jaques, 1990:281);
(e).  Kepemimpinan adalah kemampuan untuk bertindakdi luar budaya untuk memulai proses perubahan evolusi agar lebih menjadi adaptif(E.H.Schein, 1992:2);
(f).   Kepemimpinan adalah cara mengartiku-lasikan visi, mewujutkan nilai, dan menciptakan lingkungan guna mencapai sesuatu (Richards & Eagel, 1986:4);
Dari beberapa pengertian kepemimpinan para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan yang dimaksud dalam kajian ini adalah kepemimpinan kepala sekolah, karnanya penekanan kepemimpinan dalam kajian ini adalah usaha kepala sekolah untuk mempengaruhi, memotivasi, dan mengorganisir sumber daya sekolah agar mampu memberikan kontribusi demi tercapainya efektivitas dalam upaya percepatan pencapaian visi, misi, tujuan dan sasaran sekolah.

2. Kepemimpinan Sifat
Memimpin merupakan salah satu dari empat fungsi manajemen (perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan dan pengen-dalian). Lussier(2009:316) mengatakan teori sifat berusaha menentukan daftar ciri-ciri yang berbeda untuk menentukan efektivitas kepemimpinan. Sehingga Lussier(2009:317) menjelaskan bahwa teori kepemimpinan sifat, dan identifikasi enam sifat kepemimpinan singnifikan Ghiselli. Teori kepemimpinan sifat mengasumsikan bahwa ciri-ciri yang berbeda menentukan efektivitas kepemimpinan.
Menurut Ghiselli, enam sifat yang signifi-kan untuk kepemimpinan efektif. Jika diurut-kan berdasarkan kepentingannya adalah: (1) kemampuan pengawasan, (2) kebutuhan pencapaian pekerjaan, (3) inteligensi, (4) ketegasan, (5) jaminan diri dan (6) inisiatif.
Dalam perkembangannya, teori sifat men-dapat pengaruh dari aliran perilaku pemikir psikologi yang berpandangan bahwaa sifat – sifat kepemimpinan tidak seluruhnya dilahirkan, akan tetapi juga dapat dicapai melalui pendidikan dan pengalaman. Sifat – sifat itu antara lain ; sifat fisik, mental dan kepribadian.
Traits theory menyatakan bahwa efektivitas kepemimpinan tergantung pada karakter pemimpinnya. Sifat-sifat yang dimiliki antara lain kepribadian, keunggulan fisik, dan kemampuan sosial. Karakter yang harus dimiliki seseorang manurut judith R. Gordon mencakup kemampuan istimewa dalam: kemampuan intelektual, kematangan pribadi, pendidikan,  statuts sosial ekonomi, human relation, motivasi intrinsic, dan dorongan untuk maju.  Ronggowarsito menyebutkan seorang pemimpin harus memiliki astabrata, yakni delapan sifat unggul yang dikaitkan dengan sifat alam seperti tanah, api, angin, angkasa, bulan, matahari, bintang.
Karakter terus berkembang dari waktu ke waktu. Banyak orang mengatakan karakter seseorang terbentuk sejak dari kecil. Kita memang tidak mengetahui dengan pasti kapan tepatnya karakter itu mulai berkembang. Akan tetapi, bisa dipastikan bahwa karakter tidak dapat berubah dengan cepat.
Sifat akan membedakan seseorang berdasarkan kualitas atau karakteristiknya, sedangkan karakter adalah jumlah keseluruhan dari sifat-sifat ini. Kita akan memfokuskan diri hanya pada beberapa sifat yang krusial untuk seorang pemimpin. Imajinatif, inovasi dan kreativitas diperlukan dalam suatu kepemimpinan. Seorang pemimpin haruslah membuat perubahan tepat di saat yang tepat dalam pemikiran, rencana, dan metodenya. Selain itu, kreativitas sang pemimpin juga terlihat dengan memikirkan tujuan dan gagasan baru yang lebih baik, dan menemukan solusi baru dalam memecahkan masalah.
Walaupun teori sifat memiliki berbagai kelemahan (antara lain : terlalu bersifat deskriptif, tidak selalu ada relevansi antara sifat yang dianggap unggul dengan efektivitas kepemimpinan) dan dianggap sebagai teori yang sudah kuno, namun apabila kita renungkan nilai-nilai moral dan akhlak yang terkandung didalamnya mengenai berbagai rumusan sifat, ciri atau perangai pemimpin; justru sangat diperlukan oleh kepemimpinan yang menerapkan prinsip keteladanan.
Studi Ghiseli dalam Lussier(2009:317) melaksanakan studi sifat terhadap 300 menejer dari 90 bisnis di Amerika Serikat pada tahun 1971 menyimpulkan bahwa sifat-sifat tertentu penting untuk kepemimpinan efektive. Terdapat enam sifat penting kepemimpinan efektif, yaitu: (1) kemampuan pengawasan, yaitu menjadikan pekerjaan terlaksana melalui orang lain-pada dasarnya kemampuan melaksanakan empat fungsi manajemen yang ada; (2) Kebutuhan akan pencapaian pekerjaan, yaitu mencari tanggungjawab dan mempunyai motivasi untuk bekerja keras agar berhasil; (3) Intelegensi, yaitu kemampuan menggunakan penilaian dan pertimbangan yang baik dan jelas; (4) Berkeyakinan, yaitu kemampuan memecahkan masalah dan mengambil keputusan yang fakap; (5) Percaya diri yaitu memandang diri sendiri mampu mengatasi masalah dan berperilaku dengan cara yang menunjukkan kepada orang lain bahwa pemimpin mempunyai harga diri; dan (6) Inisiatif yaitu memulai sendiri, atau dapat menjadikan pekerjaan terlaksana dengan minimum pengawasan dari atasan seseorang.
Lebih lanjut Lussier(2009:318) mengidentifikasikan ada empat sifat karakter utama sebagai kualitas pribadi kepemimpinan yaitu: (1) integritas, keamanan pribadi, (3) rasa prioritas, dan (4) visi.

3. Keefektivan Kepemimpinan
Efektivitas secara umum menunjukan sampai seberapa jauh tercapainya suatu tujuan yang terlebih dahulu ditentukan. Hidayat (1986) menjelaskan bahwa : “Efektivitas adalah suatu ukuran yang menyatakan seberapa jauh target (kuantitas, kualitas dan waktu) telah tercapai. Dimana makin besar presentase target yang dicapai, makin tinggi efektivitasnya”. Sementara itu  Schemerhon John R. Jr. (1986:35) menyatakan “Efektivitas adalah pencapaian target output yang diukur dengan cara membandingkan output anggaran atau seharusnya (OA) dengan output realisasi atau sesungguhnya (OS), jika (OA) > (OS) disebut efektif ”.
Berdasarkan hal tersebut maka untuk mencari tingkat efektifitas dapat digunakan rumus sebagai berikut :
Efektifitas = Ouput Aktual/Output Target >=1
a.    Jika output aktual berbanding output yang ditargetkan lebih besar atau sama dengan 1 (satu), maka akan tercapai efektifitas.
b.    Jika output aktual berbanding output yang ditargetkan kurang daripada 1 (satu), maka efektifitas tidak tercapai
Beberapa ahli lainnya member pengertian efektivitas dari beberapa hal, antara lain; Sondang P. Siagian (2001 : 24) memberikan definisi sebagai berikut : “Efektivitas adalah pemanfaatan sumber daya, sarana dan prasarana dalam jumlah tertentu yang secara sadar ditetapkan sebelumnya untuk menghasilkan sejumlah barang atas jasa kegiatan yang dijalankannya. Efektivitas menunjukan keberhasilan dari segi tercapai tidaknya sasaran yang telah ditetapkan. Jika hasil kegiatan semakin mendekati sasaran, berarti makin tinggi efektivitasnya.
Sementara itu Abdurahmat (2003:92) “Efektivitas adalah pemanpaatan sumber daya, sarana dan prasaranadalam jumlah tertentu yang secara sadar ditetapkan sebelumnya untuk menghasilkan sejumlah pekerjaan tepat pada waktunya.
Dengan demikian kepemimpinan meme-gang peranan yang sangat penting dalam manajemen, bahkan dapat dinyatakan, kepemimpinan adalah inti dari managemen, kenyataannya, tidak semua orang yang menduduki jabatan pemimpin memiliki kemampuan untuk memimpin atau memiliki ‘kepemimpinan, sebaliknya banyak orang yang memiliki bakat kepemimpinan tetapi tidak pernah mendapat kesempatan untuk menjadi pemimpin yang sebenarnya.
Ada beberapa faktor penting yang dapat mempengaruhi efektivitas kepemimpinan, yaitu:
Pertama, persepsi yang tepat. Persepsi memainkan peran dalam mempengaruhi efektivitas kepemimpinan. Para manajer yang memiliki persepsi yang keliru terhadap pegawainya mungkin kehilangan peluang untuk mencapai hasil optimal. Oleh karenanya ketepatan persepsi manajerial sangat penting, dan hal itu begitu penting pada setiap model situasional.
Kedua, tingkat kematangan. Pemimpin dituntut untuk berkemampuan dan berkemauan mengambil tanggung jawab untuk mengarahkan perilaku mereka sendiri dengan memperhatikan tingkat kematangan dalam pengetahuan, keahlian dan pengalaman untuk melaksanakan pekerjaan tanpa pengawasan ketat dan juga kemauan untuk melaksanakan pekerjaan itu. Bagaimana pun, bawahan harus diberi perhatian serius ketika membuat pertimbangan tentang gaya kepemimpinan yang dapat mencapai hasil yang diinginkan.
Ketiga, penilaian yang tepat terhadap tugas. Para pemimpin harus mampu menilai dengan tepat tugas yang dilaksanakan oleh bawahan. Dalam situasi tugas yang tidak terstruktur, kepemimpinan otokratik mungkin sangat tidak sesuai. Para bawahan memerlukan garis petunjuk, bebas bertindak, dan sumber daya untuk menyelesaikan tugas itu. Karena tuntutan ini, seorang pemimpin harus memiliki beberapa pengetahuan teknik tentang pekerjaan itu dan syarat-syaratnya.
Keempat, latar belakang dan pengalaman. Di sini ditegaskan bahwa latar belakang dan pengalaman pemimpin mempengaruhi pilihan gaya kepemimpinan. Seseorang yang telah memperoleh keberhasilan karena berorientasi kepada hubungan mungkin akan meneruskan penggunaan gaya ini.  Seorang pemimpin yang tidak percaya kepada para bawahannya dan telah menyusun tugas bertahun-tahun akan menggunakan gaya otokratik.
Kelima, harapan dan gaya pemimpin. Pemimpin senang dengan dan lebih menyukai suatu gaya kepemimpinan tertentu. Seorang pemimpin yang memilih pendekatan yang berorientasi pada pekerjaan, otokratik, mendorong keberanian bawahan mengambil pendekatan yang sama. Peniruan model pe-mimpin merupakan kekuatan untuk memben-tuk gaya kepemimpinan.
Keenam, hubungan seprofesi. Pemimpin membentuk hubungan dengan pemimpin yang lain. Hubungan seprofesi ini digunakan untuk tukar menukar pandangan, gagasan, pengala-man, dan saran-saran. Teman-teman seprofesi merupakan sumber penting tentang perbandingan dan informasi dalam membuat pilihan dan perubahan gaya kepemimpinan.

D. Konseptual dan Metodologi
1). Konseptual
Sehubungan tujuan penelitian ini, untuk melihat seberapa besar variabel kepemimpi-nan sifat, keefektivan kepemimpinan, dan pengaruh kedua variabel tersebut, seorang kepemimpinan kepala sekolah harus dapat menunjukkan sifat-sifat yang dapat membuat guru dan tenaga kependidikan lain untuk dapat berkinerja baik.
Kepemimpinan sifat akan dikatakan baik, jika kepala sekolah memiliki sifat berikut: : (1) kemampuan pengawasan, (2) kebutuhan akan pencapaian pekerjaan, (3) intelegensi, (4) berkeyakinan, (5) percaya diri, dan (6) inisiatif.
Selanjutnya keefektivan kepemimpinan kepala sekolah  mencakup : (1) persepsi yang tepat, (2) tingkat kematangan, (3) penilaian yang tepat terhadap tugas, (4) latar belakang dan pengalaman, (5) harapan dan gaya pemimpin, (6) hubungan seprofesi.
Selanjutnya untuk mengetahui gambaran pengaruh kedua variabel penelitian yaitu kepemimpinan sifat dengan keefektivan kepemimpinan kepala sekolah dapat digam-barkan dalam bentuk desain penelitian  berikut:

Gambar 1.
Pengaruh Kepemimpinan Sifat Terhadap Keefektivan Kepemimpinan Kepala Sekolah:
Dari gambar 1 tersebut, dapat dapat disusun matrik indicator masing-masing variabel penelitian adalah sebagai berikut:
A.  Kepemimpinan Sifat
1. Kemampuan pengawasa
2. Kebutuhan akan pencapaian pekerjaan
3. Intelegensi
4. Berkeyakinan
5. Percaya diri
6. Inisiatif
B. Keefektifan Kepemimpinan
1. Persepsi yang tepat
2. Kebutuhan kerja
3. Tingkat kematangan
4. Penilaian tugas
5. Harapan
6. Hubungan seprofesi
Atas kerangka dasar konseptual diatas, asumsi peneliti bahwa kepemimpinan sifat kepala sekolah mempunyai pengaruh yang signifikan untuk mencapai keefektivan kepemimpinan kepala sekolah. Artinya semakin baik sifat-sifat kepemimpinan yang dikem-bangkan dalam memenej sekolah, maka semakin efektif pula kepemimpinan kepala sekolah itu.
2). Definisi Operasional
a.    Kepemimpinan sifat adalah kepemimpinan yang memiliki cirri-ciri yang berbeda untuk menentukan efektivitas kepemimpinan.  Penelitian ini mengadopsi penelitian sebelumnya yang dikutip Lusser(2008) hasil penelitian yang dilakukan Ghiselli(1970) bahwa terdapat enam sifat yaitu kemam-puan pengawasan, kebutuhan pencapaian pekerjaan, intelegensi, ketegasan, jamin-an diri dan inisiatif.
b.    Keefektivan kepemimpinan adalah  men-cakup kinerja dan pertumbuhan kelompok atau organisasi yang dipimpin tersebut, yaitu terdapat enam cirri kepemimpinan efektif yakni; Persepsi yang tepat, kebu-tuhan kerja, tingkat kematangan, penilai-an tugas, harapan, dan hubungan seprofesi.
3). Metodologi
Penelitian ini dilaksanakan di SMK Negeri 1 Peusangan Kabupaten Bireuen Provinsi Aceh, yang menjadi objek penelitian adalah seluruh guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 1 Peusangan Kab Bireuen.  Metode yang digunakan adalah metode survey.  Populasi dalam penelitian yaitu seluruh guru SMK Negeri 1 Peusangan Kabupaten Bireuen provinsi Aceh berjumlah 74 orang, sedangkan penentuan sampel ditetapkan oleh peneliti dengan pertimbangan (purposif) yakni, mewakili setiap jurusan, dengan bobot jumlah  guru SMK setiap  jurusan, sehingga ditetapkan sampel  sebanyak 32 orang guru di  SMK 1 Peusangan Kabupaten Bireuen.
Pengukuran variabel kepemimpinan sifat kepala SMK Negeri 1 Peusangan Kabupaten Bireuen diambil dikutip dari Lussier(2009) mencakup: (1) kemampuan pengawasan, (2) kebutuhan akan pencapaian pekerjaan, (3) intelegensi, (4) berkeyakinan, (5) percaya diri, dan (6) inisiatif.  Selanjutnya pengukuran variabel keefektivan kepemimpinan mencakup : (1) persepsi yang tepat, (2) tingkat kematangan, (3) penilaian yang tepat terhadap tugas, (4) latar belakang dan pengalaman, (5) harapan dan gaya pemimpin, (6) hubungan seprofesi.
Variabel kepemimpinan sifat memiliki 25 butir item pernyataan, dimana pernyataan sangat efektif diberi bobot 4, efektif diberi bobot 3, kurang efektif diberi bobot 2, dan pernyataan tidak efektif diberi bobot 1. Selanjutnya variabel kefektivan kepemim-pinan kepala sekolah memiliki 30 butir item pernyataan, dimana pernyataan sangat sesuai/selalu diberi bobot 4, sesuai/sering diberi bobot 3, kurang sesuai/jarang diberi bobot 2, dan pernyataan tidak sesuai/tidak pernah  diberi bobot 1.
Instrumen penelitian berupa angket, yang disusun dari konsep teori yang dikemukakan Lussier(2009), bentuk angket diadopsi dari skala likert-4, sebelum angket disusun peneliti telah membuat daftar matrik variabel beserta indikator-indikator variabel untuk melahirkan item-item pernyataan sebagai instrumen penelitian.
Metode analisis data,menggunakan analisis korelasi dan regresi. Untuk keperluan perhitungan, data penelitian diolah dengan software Microsoft Excel, dan Software SPSS (Statistical Product and service Solution).
Untuk menganalisis pengaruh variabel Kepemimpinan sifat(X) terhadap Keefektivan kepemimpinan(Y) kepala Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 1 Peusangan Kab Bireuen, maka rumusan atau langkah analisis dilakukan dua tahap, masing-masing tahap pertama (1) penentuan ada tidaknya korelasi antar variabel (r), dan tahap kedua (2) ukuran pengaruhnya dengan analisis regresi.

E.    Hasil dan Pembahasan
1. Gambaran Tentang Kepemimpinan Sifat dari Kepala Sekolah
Hasil pengolahan data variabel kepemim-pinan sifat Kepala Sekolah SMK, dapat dilihat pada tabel 1. yakni hasil perhitungan yang menunjukkan bahwa persentase setiap bobot yang ditanyakan pada responden.
Tabel 1. Skor Berdasarkan Tanggapan Responden tentang Kepemimpinan Sifat Kepala Sekolah SMK
Bobot      Kategori            Jumlah (%)
1           Tidak Efektif           11 (1,4%)
2           Kurang Efektif       51 (6,6%)
3           Efektif                      329 (41%)
4           Sangat Efektif      409 (51%)
Dari data diatas, terdapat 51 persen menyatakan baik (sangat efektif), 41 persen cukup (efektif), sisanya sekitar 8 peren menyatakan kurang (kurang efektif/tidak efektif).
Jika hasil perhitungan variabel ini direntang lebih lanjut untuk mengetahui tingkat kepemimpinan sifat, maka dengan Skor ideal tertinggi = 4 x 25 item x 32 responden   = 3200 Sedangkan Jumlah skor hasil penilaian responden sebesar 2736, sehingga rasionya sebesar = (2736/3200) x 100 % = 85,50 % yang mendeskripsikan bahwa tingkat kepemimpinan sifat kepala sekolah mencapai 85,5 % dari kondisi ideal.

2.    Gambaran Tentang Efektivitas Kepemimpinan Kepala Sekolah
Hasil pengolahan data variabel Efektivitas kepemimpinan Kepala Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 1 Peusangan Kab Bireuen Provinsi Aceh, yang didasarkan pada 30 item pernyataan,  adalah dapat dilihat pada tabel 2. yakni hasil perhitungan yang menunjukkan bahwa jumlah jawaban setiap item yang ditanyakan pada responden.
Tabel 3. Skor Berdasarkan Tanggapan Responden Tentang Efektivitas Kepemimpinan kepala Sekolah SMK
Bobot                 Kategori                     Jumlah  (%)
1                       Tidak Efektif                  61 (6,4%)
2                       Kurang Efektif          159 (16,6%)
3                       Efektif                             453 (47%)
4                       Sangat Efektif              287 (30%)
Dari data diatas, terdapat hampir 30 persen menyatakan sangat efektif, 47 persen efektif, sisanya sekitar 23 persen menyatakan kurang efektif.
Apabila hasil perhitungan variabel ini direntang lebih lanjut untuk mengetahui tingkat efektivitas kepemimpinan, maka dilakukan perbandingan jumlah skor pene-litiaan (dengan skor 2886) terhadap Skor ideal tertinggi = 4 x 30 item x 32 responden   = 3840.  Sehingga diperoleh rasionya sebesar = (2886/3840) x 100 % = 75,15 %. Ini mendeskripsikan bahwa tingkat efektivitas kepemimpinan kepala sekolah sekitar 75% dari kondisi ideal.
3.    Analisis Pengaruh Kepemimpinan Sifat dan Efektivitas Kepemimpinan
Berdasarkan pengolahan data penelitian, dengan alat bantu Ms-Excel dan SPSS, diketahui nilai Korelasi kedua variabel :  R(xy) = 0,489  termasuk kategori  cukup signifikans. Hasil lain, menyebutkan bahwa koefisien korelasi [ R(xy) ] tersebut signifikans pada taraf uji 1 %.   Hal ini disebutkan dari nilai Sig = 0,005  atau 0,5 %.  Artinya secara statistik, koefisien korelasi dapat diandalkan (yakin benar) sebesar 99,5%.
Berdasarkan hasil pengujian, yang menyimpulkan terdapat korelasi positif antara variabel penelitian, maka selanjutnya dapat dianalisis pengaruh Kepemimpinan sifat sebagai variabel independent (X) terhadap Efektivitas Kepemimpinan sebagai variabel Dependent (Y).  Untuk hal itu, digunakan pendekatan kuantitatif dengan model Regresi Y = a + b X.
Berdasarkan output analisis SPSS, tampak tiga (3) output yang dihasilkan, yang masing-masing menyatakan :
1).  Model Summary    :    bahwa model hubungan linier variabel kepemimpinan sifat(X) dan kefektivan kepemimpinan (Y) Kepala SMK Negeri 1 Peusangan Kabupaten Bireuen berkorelasi positif sebesar R = 0,489 derajat hubungannya adalah   R-square = 23,9 persen.
2).Tabel Anova : menyatakan model pengujian kelinieran hubungan antara kepemimpinan sifat(X) dan keefektivan kepemimpinan(Y) dalam persamaan : Y = a + b X yang diasumsikan. Dengan statistic-F sebesar 9,414 dan Signifikans Uji (Sig) sebesar 0,005, Maka menyatakan model Regresi Y= a + bX dapat diterima dengan tingkat keyakinan benar secara statistik sebesar 99,5%/
3). Tabel Coefficient     :     adalah tabel yang menaksir nilai konstanta dan koefisien model regresi,    Sehingga dapat ditulis model regresi X atas Y dalam persamaan :  Y = 58,999 + 0,378 X
Dan dari nilai uji t,  kedua nilai (konstanta dan koefisien regresi) dinyatakan Signifikans dapat diterima.  Karena nilai Sig (a) = 0,000 dan Sig(b) = 0,005 Jadi regresi kedua variable berbentuk : Y = 58,999 + 0,378 X
Artinya :  Perubahan atau naik turunnya bobot dari X akan berpengaruh pada besar kecilnya Y sebesar 37,8 %. Dengan kata lain, Kontribusi pengaruh variabel Kepemimpinan Sifat terhadap keefektivan kepemimpinan kepala SMK Negeri 1 Peusangan Kab Bireuen mencapai  sebesar 37,8 %,  berarti masih banyak faktor-faktor lain yang berpengaruh terhadap keefektivan kepemimpinan kepala sekolah tersebut yakni sebesar 62,2 %.

F.    Penutup
1. Kesimpulan
Mencermati temuan dan pembahasan hasil penelitian mini yang peneliti lakukan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 1 Peusangan Kabupaten Bireuen, terdapat beberapa kesimpulan yang dapat dikemuka-kan, yakni:
a. Hasil deskriptif variabel kepemimpinan sifat dan variabel keefektivan kepemimpinan kepala SMKN 1 Peusangan Kabupaten Bireuen tergolong dalam kategori baik, yaitu  85,50 persen untuk variabel kepe-mimpinan sifat dan 75,15 persen untuk variabel tingkat keefektivan kepemimpi-nan kepala Sekolah tersebut.
b.  Terdapat korelasi yang signifikan anatara variabel kepemimpinan sifat dan keefektifan kepemimpinan kepala SMKN 1 Peusangan Kab Bireuen, dimana dapat menyimpulkan bahwa terdapat korelasi yang signifikans antara kedua variabel, artinya terdapat pengaruh positif. Dengan kata lain, jika kepemimpinan sifat kepala sekolah baik, akan berkorelasi baik pula terhadap  efektivitas kepemimpinan yang diharapkannya.
c. Terdapat pengaruh variabel Kepemimpinan Sifat terhadap keefektivan kepemimpinan kepala SMKN 1 Peusangan Kab Bireuen  sebesar 37,8%, berarti masih banyak faktor faktor lain yang berpengaruh terhadap kefektivan kepemimpinan kepala sekolah tersebut yakni sebesar 62,2 %. Faktor-faktor lain tersebut tidak menjadi perhatian peneliti dalam penelitian ini.
2. Saran
a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat jadi bahan masukan bagi sekolah khususnya bagi kepala sekolah dalam mengembang-kan karirnya sebagai mener disekolahnya.
b. Kepemimpinan kepala sekolah sudah efektif atau sudah baik, hendaknya dapat dipertahankan atau ditingkatkan ketingkat sangat baik dengan memperhatikan indikator-indikator yang lebih luas lagi dalam upaya peningkatan efektifitas kepemimpinan kepala sekolah.
c. Peneliti menyarankan agar penelitian selanjutnya dapat mengkaji masalah yang relevan dengan penelitian ini, sehingga hasil penelitian berikutnya dapat dijadikan perbandingan dengan penelitian ini.

Daftar Pustaka
Blake, Robert, dkk. (1992), Pemimpin dan Kepe-mimpinan. Jakarta : Raja Grafindo Persada
Handoko, Hani.T. (2003). Manajemen. Edisi 2. Yokyakarta: BPFE
Lussier, Robert N. (2009). Management Fundamen-tals. Concepts- Applications -Skill Develop-ment.  Printed in the USA.
Rivai, Veithzal. & Murni, Sylviana (2009). Education Management, Analisis Teori  dan Praktik. Jakarta : Rajawali Pers.
Rivai, Veithzal. (2003). Kepemimpinan Dan Perilaku Organisasi. Jakarta: Raja Grafindo
Robbins, Stephen P. & Coulter, Mary. (2007). Manajemen. Jilid 1.  Jakarta : Indeks
Robbins, S.P. (1998). Perilaku Organisasi, Konsep, Kontroversi, Aplikasi. Jakarta : Prenhallindo
Siagian (2001), Ciri-ciri Kepemimpinan. Bandung  Rineka Cipta.
Stogdill (1994), Leadership. Jakarta: Ghalia Indo
Wiludjeng (2007). Pengantar Manajemen. Yokya-karta: Graha Ilmu
Yulk, Gary. 2009. Kepemimpinan Dalam Organi-sasi. Jakarta: Indeks

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s