Peranan PTK dalam Peningkatan Kualitas Guru

Oleh : Marwan Hamid
email:  marwan_h@yahoo.co.id  &  marwan.unimus@yahoo.com
[Telah dimuat pada Majalah VARIASI, ISSN: 2085-6172 Vol 2 No 6, Feb 2011]
Abstrak; Berdasarkan peranan profesional guru modern, Oemar Hamalik mengatakan bahwa hal itu menambah tanggung jawab guru menjadi lebih besar. Tanggjungjawab guru antara lain; guru harus menuntut murid untuk belajar, turut serta membina kurikulum,  melakukan pembinaan terhadap diri siswa berupa kepribadian, watak dan jasmaniah, dan melakukan diagnosis  atas kesulitan belajar dan mengadakan penilaian atas kemajuan belajar, serta menyelenggarakan penelitian.  Pengembangan profesi adalah kegiatan guru dalam rangka pengamalan ilmu dan pengetahuan, tehnologi dan keterampilan untuk peningkatan mutu baik bagi proses belajar mengajar dan profesionalisme tenaga kependidikan lainnya maupun dalam rangka menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi pendidikan dan kebudayaan. Secara rinci kegiatan yang termasuk kegiatan unsur pengembangan profesi adalah melaksanakan kegiatan karya tulis/karya ilmiah dibidang pendidikan, menemukan tehnologi tepat guna di bidang pendidikan, dan membuat alat peraga/pelajaran atau alat bimbingan. Karena itu, guru menurut Sukardi (2007)  harus melakukan penelitian dengan tujuan sebagai berikut: memperoleh informasi baru, mengembangkan dan menjelaskan, dan menerangkan, memprediksi dan mengontrol suatu ubahan.
Kata Kunci  : Guru, Profesional, PTK

I.     Pendahuluan
Guru memegang peranan yang sangat penting dan strategis dalam upaya mem-bentuk watak bangsa dan mengembangkan potensi siswa dalam kerangka pembangunan pendidikan di Indonesia. Kehadiran guru hingga saat ini bahkan sampai akhir zaman nanti tidak akan pernah dapat digantikan oleh teknologi secanggih apapun. Oleh sebab itu, dalam melaksanakan tugas-tugas guru yang cukup komplek dan unik, diperlukan guru yang memiliki kemampuan yang maksimal untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional dan diharapkan secara kontinyu guru dapat meningkatkan kompe-tensinya. Usman (2002) menyatakan bahwa guru dengan kompetensi tinggi adalah orang yang memiliki kemampuan dan keahlian khusus dalam bidang keguruan, sehingga Ia mampu melakukan tugas dan fungsinya sebagai guru dengan kemampuan yang maksimal.
Sebagai guru yang sudah banyak jam terbangnya dalam mengajar, pasti punya banyak pengalaman, baik  manis maupun pahit. Pengala-man manis dapat dirasakan ketika murid-murid kita berhasil meraih prestasi, yang sebagian merupakan kontribusi kita sebagai guru. Kita pasti meng-inginkan murid-murid kita selalu berhasil meraih prestasi terbaik. Namun, mungkin keinginan kita yang mulia tersebut lebih sering tidak tercapai karena berbagai alasan. Misalnya, mungkin kita sering menemukan murid-murid tidak bersemangat, kurang termotivasi, kurang percaya diri, kurang disiplin, kurang bertanggung jawab dan sebagainya. Pasti kita sudah melakukan upaya untuk mengata-sinya, tetapi mungkin hasilnya masih jauh dari yang diinginkan.
Guru yang inovatif, kreatif, dan produktif adalah guru yang selalu mencari dan menemukan hal-hal baru dan mutakhir untuk kepenti-ngan kualitas pembelajaran di kelas (Sunyono, 2007). Kemampuan tersebut dapat dilihat dari upaya guru dalam melakukan perbaikan kualitas proses
Sebagai guru, tentunya kita masih ingin mengatasi masalah-masalah yang ditemukan di kelas. Mengapa tidak mencoba mengatasinya lewat suatu kegiatan Penelitian Tindakan (PT)  atau Action Research?  Namun, mendengar kata ”penelitian” mungkin kita ingat pengalaman pahit ketika dulu meneliti untuk skripsi,  karena harus mengembangkan instrumen yang berkali-kali direvisi atas saran dosen pembimbing, harus minta ijin ke sana ke sini, harus terjun ke lapangan menemui responden, yang tidak selalu menyambut dengan ramah kedatangan kita, harus  kecewa karena angket tidak semua dikembalikan, harus menganalisis data dan seirng tersandung masalah statistik, dan setelah analisis selesai, harus kecewa karena hasilnya tidak selalu siap dipraktikkan di dunia nyata,  dan sebagainya. Singkatnya, kegiatan penelitian tidak mudah karena pertanggungjawaban teoretisnya cukup berat.
Lebih lanjut Muslikhah (2010) mengatakan guru adalah jantungnya pendidikan, tanpa peran aktif guru, kebijakan perubahan pendidikan secanggih apapun akan tetap sia-sia, sebagus apapun dan semoderen apapun sebuah kurikulum dan perencanaan strategis pendidikan dirancang, jika tanpa guru berkualitas tidak akan membuahkan hasil noptimal, artinya pendi-dikan yang baik dan unggul tetap ter-gantung pada kondisi guru. Guru merupakan pihak pemegang kunci dari menarik serta efektif tidaknya suatu proses pembe-lajaran, karena itu seorang guru tidak hanya di tuntut mampu menghidupkan suasana kelas tetapi juga mampu menjadikan pembelajaran yang terjadi menjadi suatu  proses peningkatan kepribadian bagi peserta didik. Seperti yang terdapat dalam pasal 40 ayat 2b Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas, guru sebagai  ujung tombak dalam proses pendidikan sangat strategis dan menentukan dalam meningkatkan mutu pendidikan. Kita tidak perlu mengalami itu semua ketika melakukan PT. Sebab,  jenis penelitian ini memang berbeda dengan jenis penelitian lain. Kalau jenis penelitian lain layaknya dilakukan oleh para ilmuwan di kampus atau lembaga penelitian, PT layaknya dilakukan oleh para praktisi, termasuk kita sebagai guru. Kalau jenis penelitian lainnya untuk mengembangkan teori, PT ditujukan untuk meningkatkan praktik lapangan. Jadi PT adalah jenis penelitian yang cocok untuk para praktisi, termasuk guru.
Dalam bidang pendidikan, khusus-nya dalam kegiatan pembelajaran dan proses belajar mengajar, Penelitian Tindakan Kelas (PTK) berkembang sebagai suatu penelitian terapan. PTK dilakukan melalui taha-pan demi tahapan untuk mencapai hasil yang diinginkan, yaitu keber-hasilan dalam peningkatan proses dan hasil belajar murid di kelas. Oleh karena itu, tahapan-tahapan yang ada dalam PTK harus dilakukan dengan baik, agar guru dapat menemukan solusi dari masalah yang timbul di kelasnya sendiri, bukan kelas orang lain.
Dengan cara menerapkan berbagai teori dan teknik pembelajaran yang relevan secara kreatif. Bahkan, guru-guru dianjurkan sekali mencari teori dan teknik pembelajaran yang mampu memba-wa perubahan pada peningkatan proses dan hasil belajar murid di kelas. Itu baru dikatakan guru yang inovatif, kreatif, dan reformatif. Selain itu, guru yang juga dikatakan sebagai penerap penelitian terapan tidak usah merasa terganggu untuk melak-sanakan tugas utamanya yaitu mengajar di kelas dan guru pun tidak perlu meninggalkan muridnya, karena hanya untuk mela-kukan PTK. Tetap saja dilaksanakan sesuai dengan tahapan yang sudah ada. Jadi dalam hal ini PTK merupakan suatu penelitian yang mengangkat masalah-masalah aktual yang dihadapi guru di lapangan.

2.  Penelitian Tindakan Kelas

a.    Pengertian Umum
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) akhir-akhir ini telah menjadi trend untuk dila-kukan oleh guru sebagai upaya pemecahan masalah dan peningkatan kualitas pembelajaran. Penelitian Tindakan Kelas merupakan suatu jenis penelitian yang dilakukan oleh guru untuk memecahkan masalah pembelajaran di kelasnya.
Menurut Suharsimi Arikunto (2006:3) bahwa PTK merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersama Dalam tulisan lain Suharsimi Arikunto (2002) menjelaskan bahwa PTK merupakan paparan gabungan definisi dari tiga kata ”penelitian, tindakan, dan kelas. Penelitian adalah kegiatan mencermati suatu objek, menggunakan aturan metodologi tertentu untuk memperoleh data atau informasi yang bermanfaat bagi pene-liti atau orang-orang yang berkepen-tingan dalam rangka peningkatan kualitas diberbagai bidang. Tindakan adalah suatu gerak kegiatan yang sengaja dilakukan dengan tujuan tertentu yang dalam pelaksanaannya berbentuk rangkaian periode/siklus kegiatan. Sedang-kan kelas adalah sekelompok siswa yang dalam waktu yang sama dan tempat yang sama menerima pelajaran yang sama dari seorang guru yang sama. Penelitian tindakan kelas (PTK) merupakan terje-mahan dari classroom Action Research yaitu suatu Action Research (penelitian tindakan) yang dilakukan di kelas.
Menurut John Elliot (1982) bahwa PTK adalah tentang situasi sosial dengan maksud untuk meningkatkan kualitas tindakan di dalamnya. Seluruh prosesnya mencakup; telaah, diagnosis, perencanaan, pelak-sanaan, pemantauan, dan pengaruh yang menciptakan hubungan antara evaluasi diri dengan perkembangan professional. Pendapat lain, Kemmis dan Mc Taggart (1988) mengatakan bahwa PTK adalah suatu bentuk refleksi diri kolektif yang dilakukan oleh peserta-pesertanya dalam situasi sosial untuk meningkatkan penalaran dan praktik sosial. Sedangkan Carr dan Kemmis menyatakan bahwa PTK adalah suatu bentuk refleksi diri yang dilakukan oleh para partisipan (guru, siswa, atau kepala sekolah) dalam situasi sosial (termasuk pendidikan) untuk memperbaiki rasionalitas dan kebenaran dari: (a) praktik-parktik sosial atau pendidikan yang dilakukan sendiri, (b) pengertian mengenai praktik-praktik tersebut, (c) situasi-situasi (lembaga-lembaga) tempat praktik-praktik tersebut dilaksanakan (Hardjodiputro, 1997).
Menurut Suhardjono (2006:4) bahwa PTK adalah laporan dari kegiatan nyata yang dilakukan para guru di kelasnya dalam upaya meningkatkan mutu pembelajaran-nya. Sedangkan, menurut Ridwan (2005:1) bahwa PTK adalah suatu bentuk kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku tinda-kan, yang ditujukan untuk memperdalam pemahaman terhadap tindakan yang dilakukan selama proses pembelajaran, serta untuk memperbaiki kelemahan-kelemahan yang masih terjadi dalam proses pembelajaran dan untuk mewujudkan tuju-an dalam proses pembelajaran tersebut.
Hopkins (1993) PTK adalah penelitian yang mengkombinasikan prosedur penelitian dengan tindakan substantif, suatu tindakan yang dilakukan dalam disiplin inquiri, atau sesuatu usaha seseorang untuk memahami apa yang sedang terjadi, sambil terlibat dalam sebuah proses perbaikan dan perubahan. Rapoport (1970) PTK adalah penelitian untuk membantu seseorang dalam mengatasi secara preaktis persoalan yang dihadapi dalam situasi darurat dan membantu pencapaian tujuan ilmu sosial dengan kerja sama dalam kerangka etika yang disepakati bersama. Seterusnya Ebbutt (1985) PTK adalah kajian sistematik dari upaya perbaikan pelaksanaan praktek pendidikan oleh sekelompok guru dengan melakukan tindakan tindakan dalam pembelajaran, berdasarkan refleksi mereka mengenai hasil dari tindakan-tindakan tersebut. Lebih jauh, Kunandar (2008) menulis, PTK merupakan suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru atau bersama-sama dengan orang lain (kolaborasi) yang bertujuan untuk memperbaiki atau meningkatkan mutu proses pembelajaran di kelasnya. Sementa-ra itu, menurut Salakim (2007:http://www. msaifunsalakim.blogspot.com) PTK ialah suatu penelitian yang dilakukan secara sistematis reflektif terhadap berbagai tinda-kan yang dilakukan oleh guru yang sekaligus sebagai peneliti, sejak disusunnya suatu perencanaan sampai dengan penilai-an terhadap tindakan nyata di dalam kelas yang berupa kegiatan belajar mengajar untuk memperbaiki kondisi pembelajaran yang dilakukannya. Selain itu, menurut Rustam dan Mundilarto (2004:1) PTK adalah sebuah penelitian yang dilakukan oleh guru di kelasnya sendiri dengan jalan merancang, melaksanakan, dan merefleksikan tindakan secara kolaboratif, dengan tujuan untuk mem-perbaiki kinerjanya sebagai guru, sehingga hasil belajar murid/siswa dapat meningkat.
Berdasarkan pendapat para ahli terse-but, dapat ditarik suatu kesim-pulan bahwa PTK adalah penelitian yang dilakukan oleh guru di dalam kelasnya sendiri melalui refleksi diri dengan tujuan untuk memperbaiki kualitas proses pembelajaran di kelas, sehingga hasil belajar siswa dapat ditingkatkan. Dengan demikian, PTK berfokus pada kelas atau pada proses pembelajaran yang terjadi di kelas, bukan pada input kelas (silabus, materi, dan lain-lain) ataupun output (hasil belajar). PTK harus tertuju atau mengkaji mengenai hal-hal yang terjadi di dalam kelas. Agar Anda dapat lebih memahami makna PTK secara utuh dan benar, sebaiknya kita kaji juga makna kelas dalam PTK.
Makna kelas dalam PTK adalah seke-lompok peserta didik (siswa) yang sedang belajar yang tidak hanya terbatas di dalam ruangan tertutup saja, tetapi dapat juga ketika siswa sedang melakukan karya-wisata, praktik di laboratorium, bengkel, di rumah, atau di tempat lain, atau ketika siswa sedang mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru. Dengan demikian, komponen dalam suatu kelas yang dapat dikaji melalui PTK adalah :
a. Siswa (murid), dapat dicermati objek-nya ketika siswa yang bersangkutan sedang asyik mengikuti proses pembelajaran di kelas/lapangan/laboratorium atau bengkel, maupun ketika siswa sedang asyik menger-jakan tugas rumah.
b. Guru, dapat dicermati ketika yang bersangkutan sedang mengajar di kelas, sedang membimbing siswa yang sedang berdarmawisata, atau ketika guru sedang mengadakan kunjungan ke rumah siswa.
c. Materi pelajaran, dapat dicermati ketika guru sedang mengajar atau sebagai bahan yang ditugaskan kepada siswa.
d. Peralatan atau sarana pembelajaran, dapat dicermati ketika guru sedang mengajar dengan tujuan meningkatkan kualitas pembelajaran, yang dicermati dapat guru, siswa, atau keduanya.
e. Hasil pembelajaran, merupakan produk yang harus ditingkatkan dan terkait dengan proses pembelajaran, sarana pembela-jaran, guru, atau siswa itu sendiri.
f. Pengelolaan, merupakan kegiatan yang sedang diterapkan dan dapat diatur/ direkayasa dalam bentuk tindakan. Misalnya yang dapat digolongkan kegiatan pengelolaan adalah cara mengelompokkan siswa, pengaturan tempat duduk, cara guru memberikan tugas, penataan perala-tan pembelajaran, dan sebagainya.
Jadi singkatnya, penelitan tindakan kelas adalah penelitian yang dilakukan oleh guru dalam perbaikan pembelajaran dengan  secara siklik. Menurut Dirjen Depdiknas (2003:3) Penelitian seperti ini merupakan penelitian pembelajaran reflektif yang dilaksanakan secara siklik oleh guru di dalam kelas dalam rangka meme-cahkan masalah, sampai masalah itu terpecahkan. Ada beberapa jenis PTK, dua di antaranya adalah individual classroom action research dan collaborative class-room action recearch.
Penelitian Tindakan Kelas bisa berupa penelitian  kualitatif bisa juga  kuantitatif pada masalah  yang akan atau sedang diselesaikan. PTK bertujuan untuk mem-perbaiki kinerja, sifatnya kontekstual dan hasilnya tidak langsung digenera-lisasikan.

b. Ciri-ciri dan Prinsip-Prinsip PTK

b-1. Ciri-Ciri PTK
1)    Permasalahan bersifat situasional dan kontekstual
2)    Permasalahan yang dijadikan sebagai bahan kajian adalah permasalahan yang biasa ditemukan dalam proses pembelajaran yang dilakukan guru,
3)    Ada tindakan
4)    Permasalahan yang terpilih sebagai kajian dalam penelitian segera dicarikan solusi, artinya langsung di-tindaklanjuti dengan suatu tindakan yang paling mungkin dapat mengatasi permasalahan tersebut,
5)    Penelaahan tehadap tindakan
6)    Tindakan  yang  telah  dilakukan  seba-gai  alternatif  pemecahan  masalah  ditelaah,  apakah tindakan tersebut dapat memecahkan permasalahan atau belum, apa kelebihan dan apa kelema-han dari tindakan yang telah dila-kukannya.
7)    Pengkajian dampak tindakan
8)    Tindakan yang telah dilakukan kembali ditelaah/dikaji apakah tindakan terse-but berdampak positif atau sebaliknya, mengapa hal itu terjadi, dan bagai-mana alternatif pemecahannya lagi.
9)    Kolaboratif
10)    Dalam  upaya  memecahkan  permasa-lahan  dengan  melakukan  tindakan  dalam  proses pembelajaran diperlukan data-data yang dapat dipercaya, guru dalam hal ini sebagai pelaku tindakan tentu saja memiliki banyak keter-batasan. Karena itu dalam upaya pengumpulan data dan pengolahannya diperlukan kerjasama dengan pihak lain sebagai patner kerja dalam upaya memecahkan permasalahan yang mun-cul, pihak lain dimaksud boleh teman guru mata pelajaran, mata pelajaran lain, kepala sekolah, pengawas, guru bimbingan konseling, atau bahkan siswa itu sendiri.
11)    Refleksi
12)    Untuk mengkaji data yang telah terkumpul dan diperoleh kesimpulan terhadap tindakan yang dilakukan, apakah tindakan tersebut dapat me-mecahkan permasalahan atau tidak, kaji kelebihan dan kelemahan yang muncul dan mencari solusi lain dalam bentuk perencanaan tindakan ulang sebagai alternatif pemecahan perma-salahan dalam pelaksanaan tindakan berikutnya.

b-2.  Prinsip-Prinsip PTK
1)    Tidak mengganggu komitmen pem-belajaran;
2)    Tidak menuntut waktu tertentu untuk pengamatan secara khusus;
3)    Metode pemecahan masalah reliabel;
4)    Permasalahan berorientasi pada peme-cahan masalah guru dalam tugasnya.

c.  Karakteristik PTK
PTK memiliki karakteristik berbeda dengan non-PTK. Oleh karena itu, PTK dapat dimasukkan ke dalam penelitian yang berjenis kualitatif. Sebab dalam PTK ketika data akan dianalisis digunakanlah pendekatan kualitatif tanpa adanya perhitungan statistik dan penelitian ini di-awali dengan adanya perencanaan, adanya perlakuan terhadap subjek penelitian, dan adanya evaluasi terhadap hasil yan dicapai sesudah adanya perlakuan.
Rustam dan Mundilarto (2004:1) mengemukakan bahwa PTK memiliki karakteristik :
(1)     masalah berawal dari guru,
(2)     tujuannya memperbaiki pembela-jaran,
(3)    metode utama adalah merefleksi diri dengan tetap mengikuti kaidah-kaidah penelitian,
(4)     fokus penelitian berupa kegiatan pem-belajaran, dan
(5)     guru bertindak sekaligus sebagai pengajar dan peneliti.
Menurut Ridwan (2005:2-3) dan Kardia-warman (2007:http://www.duniaguru.com) karakteristik PTK yang membedakan dari karakteristik  non-PTK adalah :
(1)    permasalahan yang diangkat dalam penelitian adalah permasalahan yang biasa muncul dari kegiatan sehari-hari dari proses pembelajaran,
(2)    kontekstual, artinya pelaksanaan pene-litian berlangsung bersamaan dengan pelaksanaan proses pembelajaran yang sesungguhnya,
(3)    kolaboratif (partisipatoris) artinya PTK dalam pelaksanaannya melibatkan pi-hak lain sebagai patner kerja atau bahwa PTK dilaksanakan secara kola-borasi antara teman sejawat semata pelajaran, kepala sekolah, pengawas, ataupun siswa,
(4)    luwes atau fleksibel, dalam pelaksa-naan PTK baik guru ataupun siswa tidak merasakan bahwa mereka sedang menjadi objek penelitian, tetapi mereka lebih merasakan sebagai teman kerja untuk mencapai suatu tujuan,
(5)    situasional dan spesifik, artinya dalam PTK penelitian berlangsung dalam situasi yang sesungguhnya, dan fokus pengamatan dibatasi pada aspek-aspek yang telah dipertimbang-kan serta disepakati bersama.
Sedangkan menurut Richart Winter (1996) ada enam karakteristik PTK, yaitu 1) kritik reflektif, (2) kritik dialektis, (3) kolabo-ratif, (4) resiko, (5) susunan jamak, dan (6) internalisasi tiorio dan praktek.
Berdasarkan karakteristik PTK diatas, maka tujuan guru melak-sanakan PTK adalah dalam rangka memperbaiki cara-cara mengajar melalui penerapan metode baru atau tindakan baru yang dia temukan dan diyakini karena metode baru itu telah teruji ternyata efektif meningkatkan hasil pembelajaran seperti yang diharapkan.
Disamping itu, PTK tidak sekedar tujuan memecahkan masalah, melainkan juga mencari jawaban ilmiah terhadap masalah yang dihadapinya. Secara lengkap tujuan PTK menurut  Ekawarna (2010) adalah sebagai berikut:
(a)    Memperbaiki dan meningkatkan mutu praktik pembelajaran yang dilaksanakan guru demi tercapai tujuan pembelap-jaran yang bermutu;
(b)    Memperbaiki dan meningkatkan kinerja- kinerja pembejalaran yang dilaksanakan oleh guru;
(c)    Mengidentifikasi, menemukan solusi, dan mengatasi masalah pembelajaran di kelas agar pembelajaran bermutu;
(d)    Menigkatkan dan memperkuat kemam-puan guru dalam memecahkan masa-lah-masalah pembelajaran dan membu-at keputusan yang tepat bagi siswa dan kelas yang diajarnya;
(e)    Mengeksplorasi dan membuahkan kre-asikreasi dan inovasi-inovasi pembe-lajaran yang dapat dilakukan oleh guru demi peningkatan mutu proses dan dhasil pembelajaran;
(f)    Mencobakan gagasan, pikiran, kiat, cara, dan strategi baru dalam pem-belajaran untuk meningkatkan mutu pembelajaran selain kemampuan inovatif guru;
(g)    Mengeksplorasi pembelajaran yang selalu berwawasan atau berbasis penelitian agar pembelajaran dapat bertumpu pada realitas empiris kelas, bukan semata-mata bertumpu pada kesan umum atau asumsi.
Tujuan-tujuan diatas pada prinsipnya mengarah pada adanya upaya-upaya tinda-kan yang dilakukan oleh guru untuk meningkatkan mutu isi, mutu masukan, mutu proses, dan mutu hasil pendidikan dan pembela-jaran di kelas. Peningkatan pada aspek-aspek ini  pada akhirnya dapat digunakan untuk meningkatkan sikap profesional guru dan menumbuhkan budaya akademik dilingkungan sekolah sehingga tercipta sikap proaktif di dalam melakukan per-baikan mutu pendidikan dan pembela-jaran secara berkelanjutan.

d.    Perbedaan antara Non-PTK dengan PTK

Menurut Salakim (2007:http://www. msaifun salakim.blogspot.com) perbedaan antara non-PTK dengan PTK adalah;
(1) adanya kritik refleksi, yang merupakan sebuah langkah yang berusaha mengop-timalkan upaya refleksi terhadap hasil pengamatan mengenai latar (tempat, waktu, dan suasana) dan kegiatan dalam suatu perbuatan. Dalam upaya refleksi ini juga adanya upaya kritikan sehingga memungkinkan adanya evalu-asi terhadap perubahan-perubahan mendasar atau signifikan,
(2)    adanya kritik dialektis, yang mengha-rapkan guru bersedia melakukan kriti-kan terhadap fenomena atau gejala-gejala yang ditelitinya yang selanjut-nya guru tersebut melakukan pemerik-saan terhadap konteks hubungannya secara menyeluruh yang merupakan satu unit dan merupakan suatu struktur kontradiksi internal,
(3) adanya kolaboratif, yang menghadirkan suatu kerjasama yang baik dengan pihak-pihak lain seperti Kepala Sekolah, sesama guru dan sebagainya. Kesemuanya itu diharapkan dapat dijadikan sumber data. Karena PTK merupakan bagian dari situasi dan kondisi dari suatu latar yang diteliti-nya. Guru tidak hanya sebagai penga-mat, tetapi dia juga terlibat langsung dalam suatu proses situasi dan kondisi. Bentuk kerjasama atau kolaborasi di antara para anggota situasi dan kondisi itulah yang menyebabkan suatu proses penelitian itu berlangsung dengan baik,
(4)    adanya risiko, yaitu saat melakukan PTK seorang guru dituntut berani mengambil risiko, terutama pada waktu proses penelitian berlangsung. Risiko yang mungkin akan di alaminya adalah melesetnya perkiraan dan hipotesis awal dan adanya tuntutan untuk melakukan transformasi (perubahan-perubahan ke arah yang lebih baik),
(5) adanya susunan jamak, maksudnya PTK memiliki struktur jamak atau banyak, karena penelitian ini bersifat dialektis, reflektif, partisipatif, atau kolaboratif. Susunan jamak ini berkaitan dengan pandangan bahwa fenomena yang dite-liti harus mencakup semua komponen pokok supaya bersifat komprehensif,
(6)    adanya internalisasi teori dan praktik, yang lebih menekankan keberadaan teori yang hanya diperuntukkan untuk praktik, begitu pula sebaliknya sehingga keduanya dapat digunakan dan dikem-bangkan bersama.
Sedangkan Sudjak, menyebutkan ; Pene-litan tindakan kelas adalah penelitian yang dilakukan oleh guru dalam perbaikan pembelajaran dengan  secara siklik. Menurut Dirjen Depdiknas (2003:3) Penelitian seperti ini merupakan penelitian pembela-jaran reflektif yang dilaksanakan secara siklik oleh guru di dalam kelas dalam rangka memecahkan masalah, sampai masalah itu terpecahkan. Ada beberapa jenis PTK, dua di antaranya adalah individual classroom action research dan collaborative classroom action recearch.
Menurut Ridwan (2005:4)  perbedaan antara Non-PTK dengan PTK adalah sebagai berikut:
Non PTK
a.dilakukan oleh pihak luar
b.ketat terhadap syarat-syarat formal, seperti: ukuran sampel, popu-lasi harus representatif
c.instrumen dikembang-kan hingga valid dan reliabel
d.menggunakan analisis statistik yang rumit.
e.mensyaratkan hipotesis penelitian.
f.tidak langsung memper-baiki praktek/ proses pembelajaran
g.diarahkan pada generalisasi
PTK
a.dilakukan oleh guru
b.fleksibel terhadap ukuran subjek penelitian
c.tidak dituntut pengembangan instrumen.
d.tak menggunakan analisis statistik yang rumit.
e.tak menggunakan hipotesis penelitian, kecuali hipotesis tindakan.
f.dapat memperbaiki praktek/proses pem-belajaran secara langsung
g.tidak diarahkan ke generalisasi.

Penelitian Tindakan Kelas bisa berupa penelitian  kualitatif bisa juga  kuantitatif pada masalah  yang akan atau sedang dipecahkan/diselesaikan. PTK bertujuan untuk memperbaiki kinerja, sifatnya kontekstual dan hasilnya tidak langsung digeneralisasikan. Namun demikian PTK dapat saja diterapkan  oleh orang lain yang mempunyai konteks yang mirip dengan masalah yang akan ditelitinya. Perbedaan keduanya adalah :
Non-PTK:
a.orang luar
b.Sampel harus repre-sentatif
c.Instrumen harus secara isi dan konstruk valid dan releabel
d.Menuntut penggunaan analisis statistik yang rumit
e.Mempersyaratkan hipotesis
f.Mengembangkan teori
g.Tidak memperbaiki praktik pembelajaran secara langsung
h.Hasil penelitian meru-pakan produk ilmu

PTK:
a.Dilakukan oleh guru (dosen)
b.Kerepresentatifan sampel tidak di-perhatikan
c.Instrumen valid secara isi dan reliable
d.Tidak digunakan ana-lisis statistik yang rumit
e.Tidak selalu menggu-nakan hipotesis
f.Memperbaiki praktik pembelajaran secara langsung
g.Hasil penelitian meru-pakan peningkatan mutu pembelajaran

3.  Peranan PTK

Di dalam kelas yang dihuni beragam-ragam murid yang memiliki kemauan dan keinginan yang berbeda-beda. Di kelas itu juga akan mengindikasikan bahwa setidak-nya akan bermunculan masalah yang harus segera diatasi. Untuk itulah, sangat diperlukan langkah-langkah tepat dan jitu untuk mengatasi masalah-masalah tersebut, dimana ujung tombak pelaksanaannya adalah guru. Langkah-langkah yang tepat dan jitu yang harus dilakukan guru untuk menyelesaikan masalah-masalah tersebut adalah dengan cara melakukan PTK demi untuk meningkatkan proses dan hasil pembelajaran murid serta untuk mening-katkan profesionalitas guru itu sendiri. Oleh karena itu, PTK memang begitu diperlukan oleh guru yang selalu berkecimpung dengan dunia kelas.
Guru merupakan orang yang paling tepat untuk melakukan PTK. Rustam dan Mundilarto (2004:1) mengemukakan ;
(1) guru mempunyai otonomi untuk menilai kinerjanya, (2) temuan penelitian tradisi-onal sering sukar diterapkan untuk mem-perbaiki pembelajaran, (3) guru merupakan orang yamg paling akrab dengan kelasnya, (4) interaksi antara guru dengan murid berlangsung secara unik, dan (5) keterli-batan guru dalam berbagai kegiatan inovatif yang bersifat pengembangan, mempersyaratkan guru untuk mampu melaksanakan PTK di kelasnya.
Menurut Salakim (2007:http://www. msaifunsalakim.blogspot.com),PTK merupa-kan suatu kebutuhan guru untuk mening-katkan profesionalitasnya sebagai guru.  Alasannya (1) PTK sangat kondusif untuk membuat guru menjadi peka dan tanggap terhadap dinamika pembelajaran di kelasnya. Guru menjadi reflektif dan kritis terhadap apa yang guru dan murid lakukan, (2) PTK meningkatkan kinerja guru sehingga menjadi profesional. Guru tidak lagi sebagai seorang praktisi yang sudah merasa puas terhadap apa yang di-kerjakannya selama bertahun-tahun tanpa ada upaya perbaikan dan inovasi, namun dia bisa menempatkan dirinya sebagai peneliti di bidangnya, (3) Guru mampu memperbaiki proses pembelajaran melalui suatu pengkajian yang terdalam terhadap apa yang terjadi di kelasnya, dan  (4) PTK tidak mengganggu tugas pokok seorang guru karena dia tidak perlu meninggalkan kelasnya.
Salah satu kompetensi yang ter-masuk dalam kompetensi profesional guru adalah kemampuan melakukan penelitian teru-tama PTK, dimana PTK langsung terkait dengan kebutuhan guru untuk promosi kenaikan pangkat dan jabatan mulai dari golongan IV/a ke atas (Arikunto, 2006:1-2). Bahkan, Menurut Menpan (2008:29-31)
Dalam rancangan Keputusan Menpan tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya, persyaratan meme-nuhi angka kredit dari sub unsur pengem-bangan profesi dipersyaratkan bagi guru yang akan naik pangkat dari golongan III/b ke III/c sebesar 2 angka kredit,  golongan III.c ke III/d sebesar 4 angka kredit, golongan III/d ke IV/a sebesar 6 angka kredit, golongan IV/a ke IV/b sebesar 8 angka kredit, golongan IV/b ke IV/c sebesar 10 angka kredit, golongan IV/c ke IV/d sebesar 12 angka kredit, dan golongan IV/d ke IV/e sebesar 14 angka kredit.
Selain itu, menurut Nurzaman (2006:36) dalam penilaian Setifikasi Guru, Karya Tulis Ilmiah termasuk PTK merupakan salah satu butir yang dinilai.
PTK merupakan salah satu jenis penelitian yang sangat mungkin dapat di-lakukan oleh guru-guru di sekolah, karena dalam pelaksanaannya PTK tidak terlepas dari pekerjaan keseharian sebagai guru. Yang penting, guru yang bersang-kutan mempunyai keinginan untuk memperbaiki kelemahan dan kekurangan dalam proses pembelajaran yang dilakukannya. Sedang-kan manfaat yang diperoleh dari pelaksa-naan PTK di samping laporannya dapat diakui sebagai karya tulis ilmiah, juga dapat memperbaiki/meningkatkan kualitas pembelajaran secara langsung yang akan bermuara pada peningkatan kualitas hasil belajar murid.
Berdasarkan hal diatas, maka PTK bermanfaat setelah melakukannya, bahwa dalam PTK ada 3 (tiga) komponen yang menjadi sasaran utama PTK, yaitu murid (siswa)/pembela-jaran, guru, dan sekolah. Tiga komponen itulah yang akan menerima manfaat dari PTK.
1). Manfaat bagi siswa dan pembelajaran
Tujuan PTK adalah memperbaiki kuali-tas proses pembelajaran dengan sasaran akhir memperbaiki hasil belajar siswa, sehingga PTK mempunyai manfaat yang sangat besar dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas. Dengan adanya pelaksanaan PTK, kesalahan dan kesulitan dalam proses pembelajaran (baik strategi, teknik, konsep dan lain-lain) akan dengan cepat dapat dianalisis dan didiagnosis, sehingga kesalah-an dan kesulitan tersebut tidak akan ber-larut-larut. Jika kesalahan yang terjadi dapat segera diperbaiki, maka pembela-jaran akan mudah dilaksanakan, menarik, dan hasil belajar siswa diharapkan akan meningkat. Ini menunjukkan adanya hubungan timbal balik antara pembelajaran dan perbaikan hasil belajar siswa. Kedua-nya akan dapat terwujud, jika guru memiliki kemampuan dan kemauan melakukan PTK.
Selain PTK dapat meningkatkan hasil belajar siswa, PTK yang dilakukan oleh guru dapat menjadi model bagi siswa dalam mening-katkan prestasinya. Guru yang selalu melakukan PTK yang inovatif dan kreatif akan memiliki sikap kritis dan reflektif terhadap hasil belajar yang dicapai siswa. Sikap kristis inilah yang akan dijadikan model bagi siswa untuk terus merefleksi diri sebagaimana yang dilakukan oleh gurunya.

2). Manfaat bagi guru.
Beberapa manfaat PTK bagi guru antara lain: a) Guru memiliki kemampuan mem-perbaiki proses pembelajaran melalui suatu kajian yang mendalam terhadap apa yang terjadi dikelasnya. Keberhasilan dalam perbaikan ini akan menimbulkan rasa puas bagi guru, karena Ia telah melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi siswanya melalui proses pembelajaran yang dikelola-nya.  b).Dengan melakukan PTK, guru dapat berkembang dan meningkatkan kinerjanya secara profesional, karena guru mampu menilai, merefleksi diri, dan mampu memperbaiki pembelajaran yang dikelola-nya. Dalam hal ini, guru tidak lagi hanya sebagai seorang praktisi yang sudah merasa puas terhadap apa yang dikerjakan selama ini, namun juga sebagai peneliti dibidang-nya yang selalu ingin melakukan perbaikan-perbaikan pembelajaran yang inovatif dan kreatif. c). Melalui PTK, guru mendapat kesempatan untuk berperan aktif dalam mengembangkan pengetahuan dan kete-rampilan sendiri. Guru tidak hanya menjadi penerima hasil perbaikan dari orang lain, namun guru itu sendiri berperan sebagai perancang dan pelaku perbaikan tersebut, sehingga diharapkan dapat menghasilkan teori-teori dan praktik pembelajaran. d). Dengan PTK, guru akan merasa lebih percaya diri. Guru yang selalu merefleksi diri, melakukan evaluasi diri, dan meng-analisis kinerjanya sendiri di dalam kelas, tentu saja akan selalu menemukan keku-atan, kelemahan, dan tantangan pembe-lajaran dan pendidikan masa depan, dan mengembangkan alternatif pemecahan masalah/kelemahan yang ada pada dirinya dalam pembelajaran. Guru yang demikian adalah guru yang memiliki kepercayaan diri yang kuat.

3). Manfaat bagi sekolah
Sekolah yang para gurunya memi-liki kemampuan untuk melakukan perubahan atau perbaikan kinerjanya secara profe-sional, maka sekolah tersebut akan ber-kembang pesat. Ada hubungan yang erat antara berkembangnya suatu sekolah dengan berkembangnya kemampuan guru. Sekolah tidak akan berkembang, jika gurunya tidak memiliki kemampuan untuk mengembangkan diri.
Kaitannya dengan PTK, jika sekolah yang para gurunya memiliki keterampilan dalam melaksanakan PTK tentu saja sekolah tersebut akan memperoleh man-faat yang besar, karena peningkatan kualitas pembelajaran mencerminkan kualitas pendidikan di sekolah tersebut.
Dalam keterangan lain, ahli pendidikan menyebutkan bahwa manfaat PTK di samping untuk membiasakan diri dengan menulis, mengorganisasi, melaporkan ten-tang segala yang terjadi di dalam proses pembelajaran yang kelak dapat digunakan sebagai bentuk karya tulis ilmiah dan diakui sebagai salah satu point perhitungan dalam kenaikan pangkat, juga ada manfaat lain yang lebih berarti bagi seorang guru. Manfaat tersebut adalah (1) inovasi dalam pembelajaran; (2) pengembangan kuriku-lum yang mereka pahami; dan (3)  untuk peningkatan profesionalisme seorang guru
7. Penutup
Keberhasilan PTK sangat ditentukan oleh banyak faktor yag saling kait mengait. Syarat-syarat agar PTK berhasil, adalah sebagai berikut;

Syarat-Syarat Agar PTK Berhasil
(1).    Peneliti,  kolaborator, dan siswa harus punya tekad dan komitmen untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan komitmen itu terwujud dalam keterlibatan mereka dalam seluruh kegiatan PTK secara proporsional. Andil itu mungkin terwujud jika ada maksud yang jelas dalam melakukan intervensi tersebut.
(2).    peneliti dan kolaborator menjadi pusat dari penelitian sehingga dituntut untuk bertanggungjawab atas peningkatan yang akan dicapai.
(3).    tindakan yang dilakukan hendaknya didasarkan pada pengetahun, baik pengetahuan konseptual dari tinjauan pustaka teoretis, maupun pengeta-huan teknis prosedural, yang diper-oleh lewat refleksi kritis dan di-padukan dengan pengalaman orang lain dari tinjauan pustaka hasil penelitian tindakan), berdasarkan nilai-nilai yang diyakini kebenaran-nya. Refleksi kritis dapat dilakukan dengan baik jika didukung oleh keterbukaan dan kejujuran terhadap diri sendiri, khususnya kejujuran mengakui kelemahan atau keku-rangan diri,
(4).    tindakan tersebut dilakukan atas dasar komitmen kuat dan keyakinan bahwa situasi dapat diubah ke arah perbaikan,
(5).    PTK melibatkan pengajuan pertanyaan agar dapat melakukan perubahan melalui tindakan yang disadari dalam konteks yang ada dengan seluruh kerumitannya,
(6).    Peneliti mesti mamantau secara sistematik agar  mengetahui dengan mudah arah dan jenis perbaikan, yang semuanya berkenaan dengan pemahaman yang lebih baik terha-dap praktik dan pemahaman tentang bagaimana perbaikan ini telah terjadi,
(7).    Peneliti perlu membuat deskripsi otentik objektif (bukan penjelasan) tentang tindakan yang dilaksanakan dalam riwayat faktual, perekaman video and audio,  riwayat subjektif yang diambil dari buku harian dan refleksi dan observasi pribadi, dan riwayat fiksional,
(8).    Peneliti perlu memberi penjelasan tentang tindakan berdasarkan des-kripsi autentik tersebut di atas, yang mencakup (a) identifikasi makna-makna yang mungkin diperoleh (dibantu) wawasan teorItik yang relevan, pengaitan dengan penelitian lain (misalnya lewat tinjauan pustaka di mana kesetujuan dan ketidak-setujuan dengan pakar lain perlu dijelaskan), dan konstruksi model (dalam konteks praktik terkait) bersama penjelasannya; (b) memper-masalahkan deskripsi terkait, yaitu secara kritis mempertanyakan motif tindakan dan evaluasi terhadap hasilnya; dan (c) teorisasi, yang dila-hirkan dengan memberikan penje-lasan tentang apa yang dilakukan dengan cara tertentu
(9).    Peneliti perlu menyajikan laporan hasil PTK dalam berbagai bentuk termasuk:   (a) tulisan tentang hasil refleksi-diri, dalam bentuk catatan harian dan dialog, yaitu percakapan dengan dirinya sendiri; (b) perca-kapan tertulis, yang dialogis, dengan gambaran jelas tentang proses percakapan tersebut; (c) narasi dan cerita; dan (d) bentuk visual seperti diagram, gambar, dan grafik.
(10).Peneliti perlu memvalidasi pernya-taan peneliti tentang keberhasilan tindakan peneliti lewat pemeriksaan kritis dengan mencocokkan pernya-taan dengan bukti (data mentah), baik dilakukan sendiri maupun ber-sama teman (validasi-diri), meminta teman sejawat untuk memeriksanya  dengan masukan dipakai untuk memperbaikinya (validasi sejawat), dan terakhir menyajikan hasil seminar dalam suatu seminar (validasi publik). Perlu dipastikan bahwa temuan validasi selaras satu sama lain karena semuanya berdasarkan pemeriksaan terhadap penyataan dan data mentah. Jika ada perbedaan, pasti ada sesuatu yang masih harus dicermati kembali.
Sumber: McNiff, Lomax dan Whitehead yang di-kutip Abdoeh (2007:http://www.abdoeh. wordpress.com) dan Madya(2007:http:// http://www.ktiguru.org).

Menurut Hodgkinson yang dikutip Madya (2007:http://ktiguru.org) agar PTK ber-hasil, persyaratan berikut harus dipenuhi (1) kesediaan untuk mengakui kekurangan diri; (2) kesempatan yang memadai untuk menemukan sesuatu yang baru; (3) doro-ngan untuk mengemukakan gagasan baru; (4) waktu yang tersedia untuk melakukan percobaan; (5) kepercayaan timbal balik antar orang-orang yang terlibat; dan (6) penge-tahuan tentang dasar-dasar proses kelompok oleh peserta  penelitian.

DAFTAR PUSTAKA
Abdoeh. (2007). Syarat-Syarat agar PTK Ber-hasil,http://www.abdoeh.wordpress.com (10 Jan 2008).
Arikunto. (2006) Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : Bumi Aksara
Armanto, Dian. (2006). Penyusunan Proposal dan Pembuatan Laporan Hasil Penelitian Tindakan. [Makalah]. Disajikan pada Pelatihan Guru SMP Negeri Lubuk Pakam, 28 Juni 2006.
Basrowi & Suwandi. (2008). Prosedur Peneli-tian Tindakan Kelas. Referensi Utama PTK untuk Guru serta Mahasiswa Keguruan dan Ilmu Pendidikan.  Bogor : Ghalia Indonesia
Depdikbud. (1995). Pedoman Penyusunan Karya Tulis Ilmiah Pendidikan dan Angka Kredit Pengembangan Profesi Guru, Jakarta: Direktorat Dikgutentis.
Departemen Pendidkan Nasional. (1999). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : Dirjen Dikti Depdikbud, Proyek Pengembangan Guru SMP
Ekawarna. (2010). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : gaung Persada Press
Hopkins, David. (1993). A Teacher’s Guide to Classroom Research. Philadelphia: Open University Press
Kemmis & McTaggart. (1994). The Action Research Planner. Dekan University
Kardiawarman. (2008). Konsep Dasar Pene-litian Tindakan Kelas, http://www. duniaguru.com (10 Jan 2008).
Menpan. (2008). Rancangan Peraturan Menpan Tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya, Jakarta: Ditjen PMPTK.
Mudjiran. (2008). Contoh Format Penelitian Tindakan Kelas Pengembangan Profesi Guru, Disampaikan pada Bimbingan Teknis Penulisan Karya Tulis Ilmiah, tanggal 6 Pebruari 2008, di SMP Negeri 1 Tanjung Morawa.
Nurzaman. (2006). Sertifikasi Jabatan Guru, [Makalah], disampaikan pada Workshop Inovasi Pembelajaran Tingkat Nasional tanggal 20-25 Nov 2006 di Kinasih Resort Hotel, Bogor-Jawa Barat.
Ridwan, Sa’adah. (2005). Penelitian Tindakan Kelas bagi Guru, Jakarta: Ditjen Dikdasmen
Rustam, dan Mundilarto. (2004). Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta: Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kepen-didikan dan Ketenagaan Perguruan Tinggi, Ditjen Dikti.
Salakim, M. Siafun. (2007). Pentingnya Penelitian Tindakan Kelas, http://www.msaifunsalakim.blogspot.com (11 Jan 2008).
Sukidin, dkk. (2002). Manajemen Penelitian Tindakan Kelas, Surabaya: Insan Cendikia.
Supriadi, Dedi. (1998). Education Research in Practice. Bandung : Graduadte School of Educational, IKIP.

Penulis :

Drs. Marwan Hamid, M.Pd
Lahir di Teupin Mane, 1967. Menyelesaikan Sarjana dan S2 Pendidikan Akuntansi di Unsyiah. Menjabat sebagai Wakil Rektor II Universitas Almuslim Bireuen-Aceh.Dosen FE Universitas Al Muslim (Unimus) Peusangan –Bireuen, Aceh.

Pos ini dipublikasikan di Naskah. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s