Kebijakan Pembangunan Budaya Di Aceh Masa Mendatang

. .  Oleh : Dr. Sujiman A. Musa, MA
Relah dimuat dalam VARIASI,  ISSN: 2085-6172 Vol 2, Edisi Khusus – Des 2010
Abstrak; Berbicara tentang Kebudayaan  berarti juga berbicara tentang  salah satu pedoman yang dapat mengarahkan manusia kepada nilai-nilai yang lebih baik dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Secara antropologis, kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai mahluk sosial yang digunakan sebagai pedoman untuk berinteraksi dan bertingkah laku dengan berbagai tatanan kehidupan dan lingkungannya secara baik. Dengan demikian kebudayaan adalah sentral dari aturan kehidupan manusia mulai dari kehidupan berkeluarga, bermasyarakat hingga bentuk kehidupan dalam bernegara. Sebagaimana kita ketahui bahwa yang membedakan manusia dari makhluk lainnya adalah bahwa manusia dikarunia Allah dengan kecerdasan otak atau akal. Dengan kecerdasan otaknya itulah manusia dapat mempertahankan hidupnya dan memecahkan segala kesulitan yang dihadapinya serta menyesuaikan diri dengan lingkungan dimana ia hidup. Seiring berjalannya waktu manusia mulai berpikir untuk berkarya guna memenuhi kebutuhan dirinya namun lama kelamaan mulai muncul hasrat manusia untuk berkarya dengan didasari oleh rasa keindahan. Hasil dari ciptaan-ciptaan itu merupakan hasil budaya.
Kata Kunci : Kebijakan, Pembangunan  Budaya

A.    Pengantar
Ditinjau dari sisi hasil, kebudayaan merupakan buah karya atau buah budi manusia dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Sementara itu bila ditinjau dari sisi proses, kebudayaan menjadi acuan dalam mempermudah manusia dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya dengan cara memajukan kepribadian, kecerdasan, kreativitas dan ketrampilan manusia supaya dapat menghasilkan karya yang lebih bernilai dari yang sebelumnya.
Manusia sebagai mahluk dinamis, terus menerus berusaha untuk mencapai kemajuan dan kesempurnaan hidupnya, seiring dengan itu kebudayaanpun ikut mengalami perubahan mengikuti gerak manusia. Namun perubahan atau kemajuan yang dialami manusia atau suatu suku bangsa hendaknya tidaklah melupakan akar budayanya yang sudah menjadi panutan dimana nilai-nilai budaya itu sudah terbukti dapat mengharmonisasikan kehidupan manusia itu sendiri.
Oleh karenanya tidak mengherankan kalau pakar-pakar kebudayaan kita selalu mengatakan bahwa salah satu penyebab keterpurukan bangsa indonesia adalah karena mengabaikan pembangunan nilai-nilai budaya.

B.    Aceh dan Persoalannya
Masyarakat aceh sebagai salah satu suku bangsa yang pernah mengalami kemajuan peradaban tertinggi di nusantara sejak awal masuknya Islam ke Aceh pada abad pertama Hijriah atau pada awal Abad ke-7 Masehi, sejak itu kedudukan Aceh menjadi sangat penting dalam rangkaian penyebaran kebudayaan Islam di kepulauan Nusantara. Kita mengetahui Bagaimana hebatnya kerajaan Islam Pasai sebagai dasar dari perkembangan peradaban Aceh, hingga kemudian peradaban Aceh ini mencapai puncaknya yang luar biasa pada waktu kerajaan Islam Aceh Darussalam di bawah kepemimpinan Sultan Iskandar Muda.
Konflik yang terus mendera, telah menyebabkan peradaban Aceh pun ikut mengalami pasang surut kalaupun tidak dikatakan mengalami kehancuran. Kalau kita runut pada sejarahnya selama lima abad, Aceh sudah berkali-kali mengalami kehancuran budaya dan peradabannya. Dimulai sejak Aceh berkonflik dengan bangsa Portugis, lalu disusul dengan Inggris, Belanda dan Jepang. Dalam setiap konflik ini tidak hanya membuat Aceh kehilangan jiwa dan harta benda , tetapi juga ikut menghancurkan lini-lini perada-bannya. Belum lagi, konflik-konflik internal setelah kemerdekaan yang dihadapi Aceh, seperti konflik fisik yang kemudian melahirkan Perang Cumbok tahun 1946, kemudian disusul konflik DI/TII tahun 1953, dan diteruskan dengan konflik yang baru, dimana kita baru saja mendapatkan perdamaian melalui MoU Helsinki. Dapat dibayangkan dalam setiap konflik itu bagaimana hancurnya lini-lini kebudayaan dan peradaban ditengah-tengah masyara-katnya hingga sekarang ini. Ditambah lagi dengan musibah bencana gempa dan Tsunami Tahun 2004, maka lengkaplah penderitaan dan kehancuran Peradaban Aceh.
Meskipun Aceh sudah berada dalam tahap kehancuran peradabannya yang luar biasa namun masih banyak harapan kita untuk bangkit kembali dari kehancuran peradaban ini. Pengalaman sebelumnya, setiap mereka mengalami kehancuran budayanya baik diakibatkan oleh konflik sejak dengan Portugis, Belanda dan Jepang, masyarakat Aceh selalu berhasil membangun kembali peradabannya seusai konflik, meskipun kemudian jatuh lagi akibat konflik baru. Apakah semangat itu masih kita miliki sekarang ini untuk terus membangun kembali peradaban Aceh seusai konflik, bencana Tsunami, dan dalam masa perdamaian ini?
Sebelum terjadinya bencana gempa bumi dan gelombang tsunami yang telah terjadi  yang telah meluluh lantakan sebagian Provinsi  Aceh.  Provinsi ini memiliki kondisi alam yang sangat indah dengan objek dan daya tarik wisata serta seni budaya dengan daya tarik dan keunikan tersendiri. Saat ini yang harus dipikirkan adalah adanya suatu usaha guna meningkatkan kembali apresiasi masya-rakat Aceh terhadap budaya daerahya.
Setelah musibah yang  sangat dahsyat itu,  Aceh  mengalami satu babak baru dalam perkembangannya. Begitu banyak usaha yang telah dilakukan berbagai pihak dengan berdalih kemanusiaan, mereka ingin menanamkan pengaruh mereka terutama dibidang budaya. Kalau selama ini  Aceh  merupakan salah satu provinsi yang sangat kuat berpegang pada syariat Islam, sehingga bukan satu hal mudah bagi Negara lain untuk dapat menanamkan pengaruh budayanya di Aceh. Namun saat ini Aceh  jadi begitu terbuka bagi siapapun yang ingin masuk dan tentu saja hal ini membawa pengaruh tersendiri untuk masyarakat Aceh. Kalau hal ini dibiarkan maka  Aceh  sebagai Provinsi dengan julukan Serambi Makkah akan mengalami degradasi budaya.
Saat ini masyarakat Aceh mempunyai satu kesempatan untuk memperlihatkan jati dirinya kepada dunia luar bahwa masyarakat di Aceh  bukan masyarakat yang hanya bisa menerima uluran tangan dari orang lain. Tapi Aceh memiliki kearifan budaya daerah yang masih dipegang teguh. Tentu saja dalam usaha mencapai national and character building akan muncul berbagai perbedaan di dalam masyarakat Aceh sendiri tetapi sejauh perbedaan¬ perbedaan itu dapat disikapi dengan arif dan bijaksana, maka akan menghasilkan suatu sinergi yang nantinya menjadi kebanggaan bagi rakyat Aceh. Tidak kalah pentingnya harus diperhatikan juga membangun dan membangkitkan mentalitas generasi dini agar dapat berpikir positif dalam menyikapi tragedi yang terjadi di daerahnya.
Yang harus diwaspadai setelah bencana ini, adalah masyarakat Aceh tidak boleh terbuai dengan kata bantuan dari para dermawan, kita harus dapat membedakan mana bantuan yang sesungguhnya dan mana bantuan yang hanya akan menguntungkan pihak si dermawan. Adalah kenyataan bahwa bantuan seringkali identik dengan tali yang melilit dileher karena segala bantuan umumnya adalah hutang, dan untuk membayar hutang sumber daya yang kita miliki harus terhisap, termasuk budaya kita dapat terkikis. Ini tidak berarti bahwa Aceh harus menutup diri terhadap kemajuan teknologi yang ada disekitarnya, hanya harus diwaspadai juga terhadap kemajuan tersebut.
Pengaruh budaya melalui kemajuan teknologi adalah satu keadaan yang sulit untuk dicegah. Kondisi seperti ini bukan hanya dialami oleh Provinsi Aceh  tetapi sudah menjadi masalah nasional, dimana para generasi muda sudah jarang sekali yang merasa bangga akan budaya daerahnya. Namun dengan kondisi Aceh yang labil seperti sekarang ini, kalau Pemerintah Daerah tidak segera mewaspadainya maka tidak mustahil  Aceh  akan kehilangan jati dirinya sebagai Provinsi dengan julukan Serambi Mekkah, karena sedikit demi sedikit budaya islampun akan mengalami kemunduran karena masuknya pengaruh budaya asing.

C.    Pembangunan Budaya Aceh
Dilihat dari latar belakang kehidupan, dan isu-isu sentral yang mengatakan bahwa Aceh masih dihadapkan pada persoalan-persoalan yang kompleks dan multidi-mensional yang merupakan akumulasi dari berbagai persoalan daerah yang selama ini terus berlanjut    dan belum mampu disele-saikan dengan tuntas, maka strategi pem-binaan dan usaha pengembangan kebudaya-annya perlu mengacu pada hal-hal yang terkait dengan itu. Dan harus diperhatikan pula akan hal lain yang bahwa keberhasilan pembangunan ekonomi yang kurang di-imbangi dengan pembangunan karakter akan mengakibatkan goncangan dan krisis budaya, yang kemudian berujung pada lemahnya ketahanan budaya.
Proses globalisasi dengan kemajuan dibidang teknologi komunikasi dan transfortasi telah menjadikan alam dunia seolah tanpa batas. Dalam kenyataan yang sesungguhnya pelestarian dan pengem-bangan kebudayaan daerah menjadi terlantar yang disebabkan perhatian yang kurang terhadap arti penting kebudayaan. Kebudayaan sebagai perwujudan kemam-puan manusia menyesuaikan diri dengan lingkungannya menjadi acuan (pedoman) bagi masyarakat dalam melakukan tata pergaulan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Strategi awal yang bisa kita lakukan dalam pembinaan dan pembangunan kebudayaan di Aceh adalah dilihat dari sudut falsafah dan sifatnya. Keberhasilan suatu aktivitas atau pemajuan kebudayaan di Aceh sangat tergantung kepada sejauh mana pertumbuhan, kecerdasan, kepriba-dian, kreativitas dan keterampilan yang dicapai secara bersama-sama. Semua ini senantiasa berorientasi pada manusia secara kolektif. Ketika akan berlangsung suatu proses kebudayaan, pertama kali yang harus diperhatikan oleh siapa saja yang terlibat dalam proses itu adalah kesiapan dari manusianya: sejauh mana tingkat kecerdasannya; bagaimana kepri-badiannya; dan sejauh mana kreativitas dan keterampilan yang dimilikinya. Secara asasi setiap manusia atau kelompok manusia itu mempunyai hak untuk memajukan pertumbuhan keempat matra tersebut serta tidak ada satupun kekuatan dan kekuasaan di dunia ini yang boleh meniadakan hak tersebut.
Disamping hal tersebut diatas, pembinaan dan pengembangan kebuda-yaan di Aceh sebaiknya memperhatikan masa dan waktu. Kebudayaan itu memiliki tiga sifat yang utama, yang sangat berpengaruh pada upaya pemajuan suatu daerah. Ketiga sifat itu menyangkut hal-hal yang berkaitan dengan keterselesaian, ketercepatan dan ketergantungan.
1.    Keterselesaian
Berkaitan dengan maksud keterse-lesaian, pada dasarnya kebudayaan meru-pakan proses yang tidak pernah mengenal batas akhir. Senantiasa berproses secara terus menerus sejalan dengan dinamika perkembangan keempat matra tersebut, yaitu kecerdasan, kepribadian, kreativitas dan keterampilan. Oleh karena perkem-bangan keempat matra tersebut tidak pernah berhenti, maka proses pengem-bangan kebudayaan juga tidak pernah akan bisa berhenti, tidak mengenal batas akhir, dan tidak sampai ke titik puncak karena titik puncak yang sebenarnya tidak pernah ada.
2.    Ketercepatan.
Pada dasarnya perkembangan kebuda-yaan itu berjalan secara perlahan tetapi pasti sebab banyak faktor yang ber-pengaruh pada kebudayaan manusia, baik yang bersifat internal, maupun yang bersifat eksternal, seperti ekonomi, politik dan sosial, maka kebudayaan akan berkembang sangat dinamis. Sebaliknya bila dorongan tersebut lemah, perkemba-ngan akan berjalan lamban, tetapi tidak berarti kebudayaan itu menjadi statis.
3.    Ketergantungan.
Kebudayaan adalah perwujudan usaha budi manusia, dan oleh sebab itu keber-hasilan ataupun kegagalan pengembangan kebudayaan itu pada dasarnya sangat tergantung kepada semangat masyarakat pendukung yang menjadi pemilik kebu-dayaan itu sendiri. Kebudayaan akan tetap hadir (eksis) di tengah ¬tengah masyarakat apabila masyarakat masih memandang kebudayaan masih relevan dengan per-kembangan. Sebaliknya apabila masyarakat memandang kebudayaan miliknya sudah tidak relevan lagi, maka akan ditinggalkan. Maju atau mundurnya bukan tergantung pada penguasa atau kekuatan-kekuatan yang lainnya.

D.    Penutup
Berdasarkan uraian diatas, maka upaya pemulihan dan pemajuan kebuda-yaan daerah Aceh sangat dipengaruhi oleh tingkat kemampuan masyarakat Aceh dalam menguasai empat matra tersebut. Masyarakat tidak akan mengalami kegoncangan sebagai akibat dari cepatnya perubahan atau peristiwa yang terjadi dilingkungannya, karena memiliki kemam-puan untuk melakukan adaptasi secara cepat. Disamping itu harus pula dIfahami kemajuan kebudayaan sangat tergantung pada tiga sifat kebudayaan seperti tersebut diatas. Oleh karena itu dampak pencapaian keberhasilan dari proses pemajuan kebudayaan tidak terjadi dalam waktu singkat, bukan dalam satuan tahun melainkan di dalam satuan generasi.
Pengembangan dan pembangunan kebudayaan daerah Aceh pasca musibah dahsyat yang menimpa daerah kita ini sebaiknya diarahkan kepada landasan nilai luhur, berupa keragaman budaya; penge-lolaan kekayaan budaya; dan nilai-nilai budaya. Pengembangan kebudayaan yang berlandaskan pada nilai-nilai luhur harus dengan kebijakan yang diarahkan untuk mendorong terciptanya wadah yang terbuka dan demokratis bagi dialog kebudayaan agar benturan-benturan yang terjadi tidak melebar menjadi konflik sosial; mendorong tuntasnya proses moderenisasi dalam lingkup kedaerahan yang dicirikan dengan terwujudnya kemampuan mengadaptasi dan menyaring budaya asing yang dianggap sesuai dengan situasi dan kondisi daerah kita; dan juga menguatnya masyarakat sipil; Revitalisasi nilai-nilai kearifan lokal sebagai salah satu dasar pengembangan etika pergaulan sosial untuk memperkuat identitas daerah dan nasional; serta meningkatkan kecintaan masyarakat terhadap seni budaya daerah.
Dalam program pengelolaan keraga-man budaya, bertujuan untuk mencipta-kan keserasian hubungan antar unit sosial budaya dalam daerah guna usaha menurunkan ketegangan dan ancaman konflik; dengan beberapa kegiatan-kegiatan pokok berupa pelaksanaan dialog budaya yang terbuka dan demokratis; pengembangan pendidikan multikultural untuk meningkatkan toleransi dalam masyarakat; Pelestarian budaya; dan peningkatan penegakan hukum untuk menciptakan rasa keadilan antar unit sosial budaya.
Program pengembangan Nilai Budaya, bertujuan untuk memperkuat martabat dan jati diri, melalui upaya memperkokoh ketahanan budaya sehingga mampu menangkal penetrasi budaya asing yang bernilai negatif dan memfasilitasi proses adopsi dan adaptasi budaya asing yang bernilai positif dan dan produktif.
Disamping itu, diupayakan pula pem-bangunan moral, yang mengedepankan nilai-nilai kejujuran, amanah, keteladan-an,sportivitas, disiplin, etos kerja, gotong-¬royong, kemandirian, sikap toleransi, rasa malu dan tanggung jawab. Tujuan tersebut dilaksanakan pula melalui pengarusu-tamaan nilai-nilai budaya pada aspek pembinaan, pengembangan dan pemba-ngunan. Kegiatan pokok yang ditempuh antara lain adalah aktualisasi nilai moral dan agama, revitalisasi dan reaktualisasi budaya daerah yang bernilai luhur.
Program pengelolaan kekayaan budaya bertujuan untuk meningkatkan apresiasi dan kecintaan masyarakat terhadap budaya kita sendiri. Kegiatan pokok yang dapat dilaksanakan antara lain berupa pelestarian budaya yang meliputi sejarah, kepurbakalaan dan benda cagar budaya; Peningkatan kapasitas sumber daya manusia pengelola kekayaan budaya; Pengembangan sistem informasi dan database budaya; Pengembangan peran serta masyarakat dan swasta dalam pengelolaan kekayaaan budaya; Trans-kripsi dan transliterasi naska¬h naskah kuno; penelitian, penulisan serta pence-takan naskah-naskah dan buku-buku sejarah dan kebanggaan Aceh; Pening-katan kapasitas kelembagaan dan unit-unit pelaksana teknis kebudayaan.

Penulis :
Dr. Sujiman A. Musa, MA.
Lahir di Aceh Tengah, 7 Desember 1948 Doktor bidang Education.  Saat ini bekerja sebagai dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, FKIP Universitas Almuslim, Bireuen – Aceh.

Pos ini dipublikasikan di Naskah. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s